Per 15 September, porsi kepemilikan asing di obligasi tenor 5-10 tahun meningkat menjadi 40,57% dari 39,73%, sementara tenor 2-5 tahun naik menjadi 33,07% dari 32,7%. Pada saat yang sama, porsi kepemilikan pada tenor 0-1 tahun justru turun tajam dari 6,25% menjadi 4,91%.
"Perubahan tersebut kami nilai positif bagi SBN Indonesia, khususnya pada tenor menengah hingga panjang (belly-to-long end) kurva INDOGB, karena memberikan bantalan permintaan yang lebih kuat di tengah masih tingginya suku bunga global," kata Jessica dalam laporannya.
Selain itu, pergerakan ini juga mengindikasikan bahwa pasar sepertinya cukup nyaman dengan prospek suku bunga domestik. Penurunan yield hingga hampir 7 bps untuk tenor 5 tahun itu menggambarkan bahwa investor mengurangi premi untuk risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Di sisi lain, pasar juga tampak masih berhati-hati terhadap risiko jangka panjang. Yield tenor 10 tahun berada di 7,09%, sementara tenor 15 tahun di 7,12%, dan tenor 40 tahun di 7,19%, menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya menhapus premi risiko untuk durasi panjang.
Namun, mengacu data yang dihimpun Bloomberg per 21 September, investor membukukan arus masuk ke pasar surat utang sebesar US$244,8 juta sejak awal bulan.
Pergerakan positif di pasar surat utang siang ini setidaknya cukup menopang laju rupiah. Pergerakan rupiah terus menguat 0,41% ke Rp17.799/US$ pada 11:10 WIB.
(dsp/aji)





























