Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, penguatan rupiah pagi ini sepertinya masih berbentuk respons jangka pendek pelaku pasar. Sebab, perhatian investor domestik masih tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan suku bunga acuan, BI Rate. 

Secara fundamental, level rupiah sejatinya masih berada dalam tekanan. JISDOR kemarin dibanderol Rp17.883/US$, nyaris sentuh level Rp17.900/US$, naik dari Rp17.813/US$ sehari sebelunya. 

Karena itu, pergerakan rupiah pagi ini dari Rp17.846/US$ ke Rp17.830/US$ pada awal perdagangan belum cukup mengonfirmasi adanya pembalikan tren. Setidaknya pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat dari dalam negeri, terutama hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI siang nanti. 

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di 5,75%. Jika benar-benar terjadi dan BI menahan tingkat suku bunga pada posisi saat ini, perhatian pasar akan tertuju pada nada pernyataan BI mengenai stabilitas rupiah dan ruang kebijakan ke depan. 

Hal ini menjadi penting lantaran tekanan terhadap rupiah tak cuma berasal dari faktor eksternal, tapi juga dari meningkatnya permintaan dolar domestik dan adanya penyesuaian portofolio investor dengan yield kenaikan US Treasury. 

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus lalu, naik dari US$145,3 miliar pada Juli, setidaknya masih bisa menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah. Selain itu, BI juga memiliki berbagai instrumen operasi moneter dan operasi valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar. 

Akan tetapi, faktor eksternal bisa dikatakan sebagai swing factor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Seperti yang terjadi hari ini, penurunan harga minyak mentah ke bawah US$100/barel mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan biaya impor energi. 

Artinya, penguatan rupiah pagi ini setidaknya punya dua lapisan sentimen. Dari luar negeri, turunnya harga minyak memberi ruang bagi mata uang Asia. Sementara dari dalam negeri, pasar melalukan positioning menjelang keputusan BI. 

Jika BI memberikan sinyal kuat mengenai komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah, ditopang juga dengan harga minyak stabil di kisaran US$90-an/barel, rupiah berpeluang mempertahankan penguatan dan bergerak menuju area Rp17.750-Rp17.800/US$. 

(riset)

No more pages