Logo Bloomberg Technoz

Rusia memberlakukan larangan tersebut pada Juli ketika gelombang serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyaknya menyebabkan tingkat pengolahan minyak merosot ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Pembatasan ekspor, yang awalnya direncanakan hanya berlangsung selama beberapa pekan, kemudian diperpanjang hingga Agustus dan selanjutnya sampai akhir September seiring berlanjutnya serangan.

Hingga pekan lalu, Moskwa sedang mempertimbangkan perpanjangan satu bulan lagi.

Sebelum adanya pembatasan tersebut, Rusia menyumbang sekitar 10% dari pasokan diesel global yang didistribusikan melalui jalur laut.

Penarikan volume tersebut dari pasar memperparah dampak gangguan pasokan dari Timur sehingga makin mendorong kenaikan harga diesel dunia.

Selisih harga bahan bakar ini dibandingkan minyak mentah saat ini berada di kisaran US$84/barel di Eropa, berdasarkan data nilai wajar yang dihimpun oleh Bloomberg.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$28/barel pada akhir Februari, sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan perang terhadap Iran serta Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Premi diesel terus naik./dok. Bloomberg

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengaitkan kenaikan harga tersebut dengan konflik Rusia-Ukraina—bukan dengan perang yang melibatkan Iran—serta menyatakan bahwa Moskwa dan Kyiv telah sepakat untuk berhenti menyerang aset energi satu sama lain.

Namun, tidak ada pihak yang mengonfirmasi adanya gencatan senjata semacam itu, dan serangan-serangan tersebut terus berlanjut.

Estimasi analis yang dihimpun oleh Bloomberg menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah telah mengurangi pasokan solar di pasar dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan konflik Rusia-Ukraina.

(bbn)

No more pages