Investor tampaknya lebih nyaman masuk ke tenor pendek-menengah, sementara obligasi tenor panjang masih diganjar dengan premi risiko lebih tinggi, sambil mencermati arah kebijakan fiskal di tangan menteri keuangan baru, Suahasil Nazara.
Pasar Asia
Di kawasan, obligasi Malaysia tampaknya paling digemari. Yield tenor acuan 10 tahun terpangkas 18,6 bps ke 3,87%, disusul obligasi Thailand turun 6,7 bps ke 2,23%, dan obligasi Singapura yang terpangkas 5,9 bps ke 2,41%. Sementara, obligasi India justru terkerek 0,6 bps ke 7,05%, dan Filipina naik 0,2 bps ke 7,38%.
Dari pasar valuta, sebagian besar mata uang Asia hari ini bergerak menguat. Dolar Taiwan memimpin penguatan, disusul ringgit Malaysia, baht Thailand, rupee India, yuan China dan yuan offshore.
Penguatan pada mata uang kawasan juga ditopang oleh laju yuan yang bergerak ke level terkuat setelah bank sentral China menetapkan nilai tukar acuan yuan pada level yang lebih kuat.
Ini menjadi sinyal bahwa otoritas China masih menginginkan yuan stabil atau bahkan menguat terhadap dolar AS, menjelang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pekan depan.
Sebagian mata uang Asia yang menguat juga didukung oleh harga minyak mentah yang terpangkas, Brent di US$102,55/barel, dan West Texas Intermediate (WTI) turun 1,82% ke US$100,06/barel.
Namun tak semua mata uang menyambut harga minyak turun. Yen Jepang justru melemah setelah keputusan suku bunga acuan yang tidak bulat. Dua anggota dewan Bank of Japan (BoJ), yakni Toichiro Asada dan Ayano Sato, menentang kenaikan suku bunga acuan.
BoJ memang tetap mengambil langkah pengetatan dan menetapkan suku bunga naik 25 bps ke 1,25% siang tadi. Namun terbelahnya pandangan anggota dewan BoJ itu tidak memberikan alasan bagi investor untuk memperkuat posisi yen.
Arah BI Rate
Pergerakan rupiah sepanjang bulan ini sejatinya melemah 0,18%. Akan tetapi, pelemahan itu lebih terbatas jika dibandingkan mata uang Asia lainnya, seperti ringgit Malaysia yang terpangkas 1,42%, disusul won Korea Selatan 1,07%. Namun, jika ditarik sepanjang kuartal III-2026, rupiah sudah terapresiasi 0,73%.
Pergerakan rupiah sepanjang pekan ini juga relatif stabil di rentang Rp17.629-Rp17.750/US$. Stabilnya pergerakan rupiah ini menjadi fondasi bagi Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga BI Rate pada pertemuan 22-23 September mendatang.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai keputusan Federal Reserve untuk memulai siklus pengetatan kebijakan moneter akan berdampak kepada Indonesia, tetapi pergerakan rupiah yang relatif stabil mampu mengimbangi. "Menurut kami, ada peluang BI menaikkan suku bunga mulai kuartal IV-2026," sebut Lionel.
Senada, Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson mengatakan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 100 bps secara kumulatif yang dilakukan pada Mei-Juni lalu dinilai sudah cukup untuk mendorong arus modal kembali masuk.
“Rupiah telah menguat terhadap dolar AS sejak akhir Juli, dan mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya, meskipun perang AS-Iran semakin intensif, harga minyak global meningkat, dan yield obligasi AS naik,” kata Henderson dalam catatannya.
(dsp/aji)



























