Logo Bloomberg Technoz

Percepatan kenaikan suku bunga BOJ terjadi setelah perubahan kondisi global yang memengaruhi kebijakan moneter, ketika sejumlah otoritas berupaya mengatasi dampak perang Iran. Federal Reserve (The Fed) menegaskan perubahan tersebut pada Rabu melalui kenaikan suku bunga pertamanya dalam tiga tahun, sekaligus memperkirakan kenaikan lainnya pada akhir tahun ini. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pekan lalu untuk kedua kalinya pada tahun ini.

Kenaikan suku bunga terbaru di Jepang menandai pertama kalinya BOJ, The Fed, dan ECB menaikkan biaya pinjaman pada bulan yang sama. Langkah yang dilakukan secara serentak tersebut juga menunjukkan sejauh mana BOJ telah beranjak dari statusnya sebagai bank sentral yang selama ini menyimpang dari kebijakan moneter global.

Kenaikan tersebut tidak terlalu mengejutkan setelah serangkaian pernyataan Bessent semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap keputusan tersebut.

Meskipun yen melemah terhadap dolar AS sesaat setelah pengumuman, nilainya masih lebih kuat dibandingkan level pada Juli. Intervensi terkoordinasi AS dan Jepang pada akhir bulan tersebut membantu menjauhkan yen dari level terendah dalam sekitar 40 tahun, yakni 163,99 per dolar AS yang tercatat pada 23 Juli.

BOJ kembali menegaskan bahwa pihaknya akan terus menaikkan suku bunga apabila prospek ekonomi dan harga sesuai dengan perkiraan. Dengan tingkat suku bunga 1,25%, suku bunga kebijakan BOJ untuk pertama kalinya berada dalam kisaran bawah estimasi bank sentral terhadap suku bunga netral, yakni tingkat yang dianggap tidak mendorong maupun membatasi aktivitas ekonomi.

Pernyataan Bessent yang berulang kali mendukung langkah BOJ menjelang rapat dewan membantu meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Keputusan tersebut bahkan hampir sepenuhnya telah diperhitungkan pasar pada awal September. Dalam pertemuan tatap muka dengan Ueda di North Carolina pada bulan lalu, Bessent “menyatakan dukungan kuat” terhadap langkah tegas Jepang untuk mengatasi pelemahan yen, menurut Departemen Keuangan AS.

Inflasi Jepang. (Sumber: Bloomberg)

Indikator utama inflasi Jepang tetap berada di atas 2% selama empat tahun berturut-turut hingga 2025. BOJ memperkirakan inflasi akan tetap berada di atas targetnya dalam beberapa tahun mendatang. Data yang dirilis pada Jumat sebelumnya menunjukkan bahwa inflasi inti sedikit melambat pada Agustus, sebagian akibat distorsi yang ditimbulkan oleh subsidi. Para analis memperkirakan kenaikan harga akan meningkat hingga mendekati 3% pada awal tahun depan.

Ueda dijadwalkan menjelaskan pertimbangan di balik keputusan pada Jumat tersebut serta arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang melalui konferensi pers yang biasanya dimulai pada pukul 15.30 waktu setempat.

(bbn)

No more pages