Logo Bloomberg Technoz

Keterbatasan modal usaha dan persaingan yang semakin ketat juga menjadi faktor yang memengaruhi laju aktivitas bisnis. Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan moderasi pertumbuhan ekonomi pada Q2-2026.

“Prospek bisnis UMKM pada Q3-2026 diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun lebih moderat, terutama ditopang oleh peningkatan proyek pemerintah dan swasta yang akan memberikan spillover effect terhadap sektor lainnya serta perekonomian yang tetap tumbuh. Di sisi lain, pelemahan daya beli dan El Nino menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya bagi sektor pertanian,” ujar Hery.

Survei BRI juga menunjukkan aktivitas investasi UMKM masih berada dalam fase pertumbuhan. Indeks investasi yang tetap berada di atas 100 mengindikasikan pelaku usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi dan keberlanjutan bisnis.

Gambaran tersebut terlihat dari kinerja sektoral. Pada Q2-2026, mayoritas sektor UMKM masih mencatat indeks di atas 100. Pertanian, konstruksi, dan pertambangan menjadi sejumlah sektor yang mencatat penguatan.

Sektor pertanian memperoleh dukungan dari momentum panen raya dan harga jual produk pertanian yang baik. Sementara itu, konstruksi dan pertambangan terdorong oleh mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta serta kondisi cuaca yang mendukung kegiatan usaha.

Proyek Pemerintah Jadi Penopang UMKM

Berbeda dengan sektor yang mencatat penguatan, industri pengolahan dan jasa-jasa lainnya masih berada dalam fase ekspansif dengan laju yang lebih moderat.

Perlambatan pada kedua sektor tersebut antara lain dipengaruhi normalisasi permintaan pasca-HBKN, daya beli masyarakat yang melemah, kenaikan harga barang input, serta meningkatnya biaya operasional.

Persaingan usaha yang semakin ketat juga menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan pelaku UMKM. Kondisi tersebut membuat ekspansi bisnis tetap berlangsung, tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah.

Memasuki Q3-2026, BRI memperkirakan aktivitas bisnis UMKM di seluruh sektor masih berada pada fase ekspansif. Meski demikian, laju pertumbuhan diproyeksikan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.

Sektor pertambangan dan konstruksi diperkirakan menjadi salah satu penopang aktivitas UMKM pada kuartal III. Perkembangan tersebut berkaitan dengan semakin banyaknya proyek pemerintah dan swasta yang mulai berjalan.

Dampak dari proyek tersebut diperkirakan tidak hanya dirasakan secara langsung oleh sektor konstruksi dan pertambangan. Aktivitas proyek juga berpotensi menciptakan efek lanjutan bagi sektor usaha lain yang terhubung dalam rantai pasok.

Optimisme pelaku UMKM terhadap tiga bulan mendatang turut tercermin dalam Indeks Ekspektasi sentimen bisnis. Pada Q3-2026, indeks tersebut tercatat sebesar 120,2.

Level tersebut masih cukup jauh di atas angka 100. Hal ini menunjukkan sentimen pelaku UMKM terhadap prospek ekonomi, sektor usaha, dan perkembangan bisnis ke depan tetap positif.

Optimisme juga terlihat pada sebagian besar sektor usaha. Sektor konstruksi mencatat kenaikan indeks sebesar 7,4 poin menjadi 110,8, sedangkan sektor pertambangan meningkat 1,6 poin menjadi 108,3.

Peningkatan ekspektasi pada konstruksi dan pertambangan terutama dikaitkan dengan bergulirnya proyek pemerintah dan swasta. Permintaan pasir, batu, dan material galian untuk kebutuhan bangunan juga menjadi salah satu faktor pendukung.

Kondisi cuaca yang kondusif turut memberikan ruang bagi aktivitas kedua sektor tersebut. Dengan demikian, proyek dan kondisi operasional menjadi faktor yang diperhatikan pelaku usaha dalam melihat prospek bisnis pada kuartal berikutnya.

Selain mengukur aktivitas dan ekspektasi bisnis, survei BRI juga melihat tingkat kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah. Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM terhadap Pemerintah atau IKP pada Q2-2026 tercatat sebesar 107,4.

Angka tersebut masih berada di atas level 100. Penilaian tertinggi diberikan pada aspek pemerintah dalam memberikan rasa aman dan tenteram dengan indeks 130,4.

Sementara itu, aspek menyediakan dan merawat infrastruktur mencatat indeks sebesar 116,5. Kedua indikator tersebut menjadi bagian dari gambaran persepsi pelaku UMKM terhadap peran pemerintah dalam mendukung aktivitas ekonomi.

Hasil survei secara keseluruhan memperlihatkan bahwa UMKM masih memiliki daya tahan ketika menghadapi moderasi aktivitas ekonomi. Tekanan terhadap daya beli, kenaikan biaya usaha, dan persaingan tetap menjadi tantangan.

Namun, ekspektasi yang masih berada di atas level 100 menunjukkan pelaku usaha tetap melihat adanya peluang pertumbuhan. Optimisme tersebut menjadi salah satu modal bagi UMKM untuk mempertahankan kegiatan usaha pada periode mendatang.

Hery mengatakan dinamika tersebut menjadi perhatian BRI dalam mendukung keberlanjutan sektor UMKM. Menurutnya, menjaga daya beli sekaligus menciptakan ruang pertumbuhan menjadi bagian penting untuk mempertahankan momentum usaha.

“Kondisi ini menunjukkan pentingnya terus menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menciptakan ruang bagi UMKM untuk berkembang. BRI akan terus mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung UMKM agar mampu menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” tutup Hery.

Dengan Indeks Bisnis UMKM yang masih berada di atas 100 serta Indeks Ekspektasi yang mencapai 120,2, perkembangan pada Q3-2026 akan dipengaruhi oleh kombinasi antara permintaan domestik, proyek pemerintah dan swasta, biaya usaha, serta faktor cuaca.

Bagi pelaku UMKM, kemampuan menjaga arus usaha di tengah perubahan tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan ekspansi. Sementara bagi sektor yang berkaitan dengan proyek konstruksi dan pertambangan, peningkatan aktivitas proyek menjadi salah satu faktor yang dipantau untuk menopang pertumbuhan pada kuartal III 2026.

(tim)

No more pages