Kehadiran kedai membuat aktivitas ekonomi Mawiyah berkembang dari sekadar berjualan secara daring menjadi usaha yang memiliki tempat fisik. Di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, ia kini memiliki kegiatan usaha sekaligus penghasilan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurut Mawiyah, menjalankan usaha tidak selalu menghasilkan pendapatan yang sama. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengembangkan usaha yang telah dibangun.
“Kalau menjalankan usaha pasti ada naik turunnya penghasilan. Tapi menurut saya, selama kita tetap semangat dan konsisten menjalani usaha, insyaallah akan ada hasil baik yang didapat,” katanya.
Bagi Mawiyah, pelanggan menjadi salah satu indikator penting dalam perjalanan bisnisnya. Ketika pembeli kembali datang setelah mencoba produk yang dijual, hal tersebut menjadi dorongan untuk mempertahankan kualitas sekaligus mengembangkan pilihan produk.
Setelah memperoleh pembiayaan, ia juga semakin berani menambah variasi dagangan. Beragam minuman, jus, jajanan, dan gorengan disiapkan untuk memenuhi selera konsumen sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.
Tidak hanya belajar mengenai produk, Mawiyah juga mulai memahami pengelolaan keuangan usaha. Ia menggambarkan kedainya seperti perusahaan dalam skala kecil karena seluruh keputusan dan arus uang harus dikelola sendiri.
“Rasanya seperti punya perusahaan sendiri, karena semua harus kita kelola sendiri. Saya harus membagi uang untuk modal yang diputar kembali, menyiapkan angsuran Mekaar, dan mengatur kebutuhan usaha,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Mawiyah belajar memisahkan keuangan usaha dan kebutuhan pribadi. Dari keuntungan yang diperoleh, ia mulai menyisihkan bagian tertentu sebagai bentuk penghasilan untuk dirinya sendiri.
Kebiasaan memisahkan keuangan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Modal dapat terus diputar, sementara kewajiban angsuran pembiayaan disiapkan dari hasil penjualan.
Dari Kedai Rumahan ke Pasar yang Lebih Luas
Mawiyah kini tidak hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke kedainya. Ia juga menerima pesanan dan menyediakan layanan pesan antar untuk menjangkau pelanggan di luar lingkungan sekitar rumah.
Ketika terdapat acara atau kegiatan tertentu, produk dagangannya juga dibawa ke lokasi. Cara tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus memperkenalkan produk kepada konsumen baru.
Pengembangan usaha Mawiyah juga mendapat dukungan melalui kegiatan pemberdayaan. Ia pernah mengikuti kelas memasak yang diselenggarakan PNM Mekaar untuk menambah keterampilan yang dapat diterapkan dalam kegiatan usahanya.
Kelas tersebut menjadi tambahan pengetahuan bagi Mawiyah dalam mengembangkan produk. Bagi pelaku usaha skala mikro, peningkatan keterampilan dapat menjadi bagian dari proses untuk mempertahankan sekaligus memperluas usaha.
Kisah Mawiyah menunjukkan bahwa perjalanan pelaku usaha ultra mikro tidak hanya berkaitan dengan tambahan modal. Pengelolaan keuangan, pengembangan keterampilan, inovasi produk, dan kemampuan menjangkau pelanggan juga menjadi bagian dari proses membangun usaha.
Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan tersebut sejalan dengan pengembangan Holding Ultra Mikro atau Holding UMi. Ekosistem tersebut mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM untuk memperluas serta memperdalam akses layanan keuangan bagi segmen ultra mikro.
Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi diarahkan untuk menghubungkan berbagai kebutuhan masyarakat ultra mikro dalam satu ekosistem. Layanannya mencakup pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan hingga pendampingan usaha.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan perjalanan nasabah dalam ekosistem Holding UMi tidak berhenti setelah memperoleh pembiayaan. Integrasi ketiga entitas membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh layanan keuangan sesuai dengan perkembangan usaha dan kapasitas ekonominya.
“Dengan demikian, pelaku usaha ultra mikro memiliki ruang untuk terus bertumbuh, memperkuat usahanya, membangun kebiasaan menabung, hingga secara bertahap mengakses layanan keuangan yang semakin luas,” ujar Dhanny.
Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi tercatat telah melayani 33,8 juta debitur aktif. Ekosistem tersebut juga mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro.
Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur untuk naik kelas. Angka tersebut mencerminkan upaya memperluas akses keuangan sekaligus mendorong peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
Bagi Mawiyah, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu bagian dari perjalanan membangun usaha. Dari modal yang diperoleh, ia mengembangkan usaha secara bertahap, memperluas pilihan produk, sekaligus belajar mengelola keuangan secara lebih teratur.
Kedai di depan rumah yang kini dijalankannya menjadi titik baru dalam perjalanan tersebut. Usaha yang bermula secara daring pada 2023 berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan ruang bagi Mawiyah untuk berkontribusi terhadap pendapatan keluarga.
Pengalaman itu juga memperlihatkan bahwa usaha ultra mikro dapat berkembang melalui proses yang bertahap. Akses modal, pendampingan, keterampilan, serta disiplin mengelola keuangan menjadi sejumlah aspek yang saling melengkapi dalam perjalanan pelaku usaha.
Mawiyah pun terus menjalankan kedainya dengan mengandalkan konsistensi dan kedekatan dengan pelanggan. Dari ruang usaha sederhana di depan rumah, ia membangun sumber penghasilan yang terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pasar dan kemampuan yang dimilikinya.
(tim)





























