Artinya, jika The Fed mempertahankan sikap ketat untuk mengendalikan inflasi, maka bank sentral di Asia perlu memperhitungkan dampaknya terhadap mata uang, arus modal, dan pasar obligasi masing-masing jika mengambil sikap sebaliknya, demi mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Melansir data Bloomberg, pasar obligasi Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda datarnya kurva imbal hasil pagi ini. Yield tenor 4-12 tahun masih bergerak di rentang 7,02-7,2%. Sementara yield tenor pendek seperti 1-3 tahun masih bergerak di rentang 6,73-6,9%.
Namun gerak di pasar obligasi Jepang mulai terasa. Tenor 30 tahun bahkan lebih rendah (4,06%) dari tenor 15 tahun (4,36%). Begitu juga di pasar obligasi AS yang mencatat pergerakan yield tenor 3-5 tahun berada di kisaran 4,8%, lalu di tenor 7-10 tahun di level 4,9%.
Berikut rangkuman kurva yield yang disarikan dari Bloomberg:
(dsp/aji)































