Tak cuma yield obligasi pemerintah AS yang terpangkas. Di pasar Asia, yield obligasi pemerintah Singapura tenor 10 tahun turun 3,5 bps ke 2,47%, sedangkan yield obligasi pemerintah Jepang terpangkas 4,9 bps ke 2,97%. Bahkan, yield obligasi Australia lebih dalam lagi, terpangkas 6,3 bps jadi 5,35%.
Sementara, yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS juga ikut terpangkas 3,5 bps ke 5,93%, disusul yield obligasi mata uang dolar AS milik Filipina juga turun 2,2 bps ke 5,88%.
Pergerakan yield di pasar obligasi dunia belum sepenuhnya berada dalam mode risk-off, meskipun investor sedang menghadapi ketidakpastian dari arah kebijakan moneter AS.
Pelaku pasar sebelumnya memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang sisa 2026. Pada Jumat lalu, sebelum data inflasi dirilis, probabilitas The Fed mengerek suku bunga berkisar 70%. Namun, angkanya kini melonjak menjadi 92%.
Tekanan inflasi menjadi salah satu alasan mengapa suku bunga AS diperkirakan naik. Jika kenaikan itu benar-benar terjadi, maka perhatian pelaku pasar agaknya akan beralih pada pertanyaan, apakah ini kenaikan satu kali atau merupakan awal dari siklus pengetatan baru?
Apabila Gubernur The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga bulan ini bukan yang terakhir, maka tekanan terhadap obligasi global dan mata uang negara berkembang berpotensi semakin besar. Siang ini, terpangkasnya yield US Treasury memberi sedikit ruang bagi mata uang Asia untuk bergerak variatif.
Namun, pergerakan yang beragam ini masih dibayangi sikap kehati-hatian investor akan tingginya yield US Treasury menjelang pengumuman dari The Fed. Melansir data Bloomberg, dolar Taiwan berbalik melemah setelah siang tadi sempat menguat untuk kali pertama dalam lima hari terakhir. Begitu juga dengan won Korea Selatan yang tertekan, lantaran pelaku pasar menanti keputusan The Fed.
Sebaliknya, peso Filipina menguat bersama baht Thailand, yuan China, yuan offshore, yen Jepang, dan rupee India.
Indeks dolar AS terhadap mata uang utama terpangkas 0,06% ke 99,54. Namun, kenaikan harga minyak mentah Brent yang bertahan tinggi di US$107,49/barel, menahan laju penguatan sebagian mata uang Asia sore ini.
(dsp/aji)



























