Logo Bloomberg Technoz

Terlebih, CME FedWatch Tools melihat peluang lebih dari 90% bagi The Fed untuk mengerek suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023, dengan kata lain kenaikan 25bps menjadi 4% terbilang hampir pasti. 

Probabilitas Federal Funds Rate September 2026 (Sumber: CME FedWatch)

Keyakinan tersebut semakin menguat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu perang dan konflik di Timur Tengah tanpa ada tanda-tanda mereda, kebangkitan inflasi, serta kecemasan pasar terhadap anggaran pemerintah.

Adapun kenaikan suku bunga acuan akan menambah tekanan terhadap harga saham yang sudah menghadapi tingginya biaya energi dan pembiayaan.

“Jika The Fed benar mengikuti pasar dan menaikkan suku bunga acuannya, pandangan kami adalah saham kemungkinan akan menghadapi tekanan penurunan dalam jangka pendek,” kata Chris Senyek dari Wolfe Research, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset terbaru pagi ini menyebut, lonjakan inflasi energi berkelanjutan akibat eskalasi gangguan pasokan di Timur Tengah dan Afrika Utara di atas tersebut memperkuat ekspektasi investor bahwa The Fed akan kembali menaikkan Fed Rate sebesar 25 bps, dengan probabilitas pasar melonjak hingga 92% lebih.

“Investor berada dalam posisi wait and see apalagi menjelang keputusan FOMC khususnya terkait Fed Rate yang keluar pada Kamis, 17 September 2026 dini hari waktu Indonesia sehingga membuat perdagangan market pada Rabu ini lebih berfungsi sebagai positioning menjelang event risk,” mengutip riset Mirae Asset Sekuritas.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, pasar menantikan dengan cermat keputusan suku bunga Federal Reserve pada hari Rabu untuk melihat apakah Bank Sentral tersebut akan menaikkan suku bunga seperti yang diprediksi.

Tekanan pasar saham juga datang dari pasar obligasi AS yang melemah pada Selasa, mendorong yield obligasi US-Treasury melejit, terlebih lagi yield obligasi AS, US Treasury tenor 10 tahun sempat melesat mencapai level 5%, posisi tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini dipicu oleh respons pasar yang bersiap menghadapi kenaikan suku bunga acuan. 

“U.S. 10-year Bond Yield naik lebih dari 3 bps ke level 5.00%, setelah sempat menyentuh 5.041% yang merupakan level tertinggi Juli 2007,” jelas Phintraco.

Dengan sejumlah sentimen tersebut, harga minyak yang bertahan di level tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dinilai menjadi faktor negatif yang memengaruhi IHSG. Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI berada pada area oversold

Diprediksi IHSG berpotensi menguji level 6.350–6.400 pada perdagangan Rabu (16/9/2026) hari ini.

(fad)

No more pages