Dari besaran tersebut, total biaya total yang dikeluarkan perseroan mencapai Rp6,9 triliun atau naik tipis 1% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, gegara terdapat kenaikan produksi.
Dengan begitu, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sepanjang Januari—Agustus 2026 menembus Rp6,12 triliun atau naik 183% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sejumlah Rp2,1 triliun.
“Laba delapan bulan ini sudah melampaui laba satu tahun penuh 2025 yang sebesar Rp2,35 triliun, bahkan hampir dua kali lipatnya sampai Agustus ini,” tegas Melati.
Sebelumnya, Inalum menargetkan produksi aluminium pada 2026 mencapai 278.000 ton, relatif stagnan bahkan turun tipis 0,7% dibandingkan dengan realisasi produksi 2025 sebanyak 280.082 ton.
Akan tetapi, torehan produksi aluminium perseroan pada 2025 yang sejumlah 280.082 ton tersebut merupakan rekor produksi tertinggi Inalum dalam 50 tahun terakhir.
Dari sisi penjualan, pada tahun ini perseroan menargetkan dapat menjual sekitar 275.010 ton aluminium. Pada 2025, Inalum mencatatkan penjualan aluminium sebanyak 280.141 ton.
Lebih lanjut, hingga kuartal I-2026 perseroan mencatatkan produksi aluminium sejumlah 74.553 ton atau naik 17% dari produksi aluminium pada kuartal I-2025 sebanyak 63.588 ton.
Sementara itu, hingga kuartal I-2026, perseroan sudah menjual sekitar 66.713 ton aluminium atau naik tipis 1% dari penjualan kuartal I-2025 sebesar 66.654 ton.
Pendapatan perseroan pada 2025 mencapai US$785,7 juta, naik sekitar 10% dari pendapatan 2024 senilai US$717,0 juta.
Sejalan dengan itu, total biaya juga meningkat menjadi US$616,1 juta, atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan US$575,4 juta pada tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA melonjak menjadi US$208,8 juta atau tumbuh sekitar 60% dari US$130,2 juta pada 2024.
Sementara itu, laba bersih Inalum pada 2025 naik menjadi US$142,8 juta, atau naik sekitar 15% dibandingkan dengan US$123,7 juta pada tahun sebelumnya.
Selanjutnya, margin laba bersih meningkat dari 17,3% menjadi 18,2% pada 2025. Return on asset (ROA) naik dari 5% menjadi 6% pada 2025, sedangkan return on equity (ROE) juga meningkat dari 6,2% menjadi 7% pada 2025.
(wdh)




























