Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Secara teknikal, emas kini sedang bearish. Koreksi dalam waktu dekat bisa dilihat sebagai peluang beli karena dalam jangka panjang ada faktor yang menopang harga emas, seperti aksi borong oleh berbagai bank sentral,” kata Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities, seperti diberitakan Bloomberg News.
Salah satu bank sentral yang rajin membeli emas adalah People’s Bank of China (PBcC). Pada Agustus, kepemilikan emas oleh PBoC bertambah 650.000 ons. Koleksi emas PBoC bertambah selama 22 bulan beruntun.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Rabu (16/9/2026)? Apakah akan terjadi penurunan tiga hari berturut-turut?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas berada di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 44. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh nol. Paling rendah, sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga emas berpeluang naik. Dengan syarat bisa menembus pivot point US$ 4.296/troy ons.
Dari situ, harga emas berpeluang mengetes resisten US$ 4.336-4.399/troy ons. Target paling optimistis ada di US$ 4.442/troy ons.
Namun kalau harga emas turun lagi, maka US$ 4.279/troy ons sepertinya akan menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke US$ 4.259-4.235/troy ons.
Target paling pesimistis adalah US$ 4.135/troy ons.
(aji)

























