Keputusan The Fed pada Rabu menjadi perhatian utama setelah data inflasi inti pekan lalu lebih tinggi dari perkiraan, sehingga memicu ekspektasi kenaikan suku bunga pertama dalam sekitar tiga tahun. Kenaikan suku bunga acuan akan menambah tekanan terhadap saham yang sudah menghadapi tingginya biaya energi dan pembiayaan.
“Jika The Fed mengikuti pasar berjangka dan menaikkan suku bunga, pandangan kami adalah saham kemungkinan akan menghadapi tekanan penurunan dalam jangka pendek,” kata Chris Senyek dari Wolfe Research. “Namun, kami menemukan bahwa dalam jangka waktu yang lebih panjang—enam hingga 12 bulan setelah kenaikan suku bunga pertama—saham biasanya pulih dan bergerak ke wilayah positif.”
Tiga bank sentral utama akan menggelar pertemuan pekan ini. Setelah The Fed, keputusan kebijakan moneter akan diumumkan oleh bank sentral Inggris dan Jepang, yang berpotensi mengubah prospek kebijakan moneter untuk sisa 2026.
Wall Street memperkirakan peluang lebih dari 90% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. Keyakinan tersebut semakin menguat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu perang, tanda-tanda kebangkitan inflasi, serta kekhawatiran terhadap anggaran pemerintah.
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga—atau menaikkannya tanpa memberikan panduan yang jelas mengenai kenaikan berikutnya—dapat mendorong investor meminta imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi sebagai perlindungan terhadap inflasi. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor pendek cenderung lebih erat mengikuti arah kebijakan The Fed.
Harga minyak mentah Brent ditutup hampir 3% lebih tinggi pada Selasa setelah gangguan pada jaringan pipa utama Arab Saudi dan ladang minyak Libya menambah risiko pasokan di pasar yang sudah terdampak gangguan akibat perang Iran.
Pelaku pasar memantau tanda-tanda mengenai berapa lama jaringan pipa East-West milik Arab Saudi akan tetap ditutup setelah serangan drone menghentikan operasionalnya pekan lalu. Saudi Aramco menunda pengiriman minyak kepada sejumlah pelanggan di Eropa bulan ini, menurut sejumlah orang yang mengetahui masalah tersebut.
“Perpaduan antara suku bunga yang lebih tinggi dan harga minyak yang tinggi ibarat meminta saham berlari maraton dengan beban terikat di pergelangan kaki,” kata Darrell Cronk dari Wells Fargo Investment Institute. “Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor terhadap laba di masa depan, sementara biaya energi yang lebih tinggi menggerus daya beli konsumen dan menekan margin keuntungan.”
(bbn)



























