Logo Bloomberg Technoz

Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham konsumen primer yang amblas mencapai 1,24%, susul saham energi, dan saham infrastruktur yang melemah 1,22%, dan 1,19%.

IHSG dan Bursa saham Benua Kuning terjerembab senada dengan Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, Wall Street melemah di mana Nasdaq Composite turun 0,65, Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 0,61%, dan S&P 500 jatuh 0,58%.

Sentimen yang membuat pelaku pasar cemas datang dari kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sama sekali tidak menunjukkan asa damai, di mana baik Washington maupun Teheran tidak menunjukkan itikad untuk mundur atau membuka ruang perundingan baru.

Terlebih lagi, seperti yang dilaporkan Bloomberg News, pertempuran semakin intens selepas serangan AS terhadap kapal tanker minyak Iran, serangan rudal balistik ke Yordania, serta serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang memaksa penghentian sebagian operasi.

“Serangan lanjutan terhadap kapal tanker bahan bakar dan retorika yang muncul menunjukkan bahwa konflik ini bisa berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan para analis,” kata Rebecca Babin, Trader Energi Senior di CIBC Private Wealth Group. 

Harga minyak mentah menuju lonjakan 80% tahun ini, dengan harga West Texas Intermediate melejit hingga berada di atas US$104 per barel. Adapun harga Brent melejit di atas US$108 untuk kedua kalinya sejak Juli yang lalu, usai kenaikan yang amat signifikan.

Lonjakan harga minyak mentah di pasar global dinilai bakal mengerek inflasi, memperparah risiko tersebut hingga memicu kecemasan akan potensi kenaikan suku bunga acuan. 

Hanya beberapa hari menjelang rapat Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), trader pasar uang menunjukkan para pelaku pasar memperhitungkan peluang 70% untuk kenaikan suku bunga, melonjak dari sebelumnya hanya 40% pada minggu lalu. 

Laporan inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari estimasi juga mendorong pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga acuan. Indeks Harga Produsen (IHP) AS menguat 0,4% pada Agustus dibanding bulan sebelumnya, menjadi kenaikan terbesar sejak Mei, dan meningkat 5,4% dibanding tahun lalu, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Di luar komponen pangan dan energi, Indeks tersebut menguat 0,2% pada bulan lalu dan 4,6% secara tahunan.

“Dengan data IHP secara keseluruhan yang masih relatif tinggi, The Fed tampaknya akan menaikkan suku bunga tahun ini meskipun tidak melakukannya bulan ini,” kata Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara di Capital Economics, dalam sebuah catatan, melansir Bloomberg News.

(fad)

No more pages