“Sampai kita lihat ambulans sibuk luar biasa, angkut mereka ke rumah sakit ya. Bahkan ada juga yang kita lihat di media sosial, anak yang tadinya cerdas, Wakil Ketua OSIS, kemudian mengalami kemunduran drastis dari kesehatannya akibat diduga memang setelah makan MBG tadi ya,” kata Piprim.
Menurut Piprim, sejak awal IDAI telah mengingatkan pentingnya food safety atau keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai makanan yang dibagikan kepada anak harus memenuhi standar keamanan pangan yang ketat.
Ia juga mengingatkan agar keamanan pangan tidak disederhanakan hanya dengan meminta guru mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Jadi ini kami dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menyerukan hentikan sekarang juga keracunan makanan akibat program MBG, penuhi standar keamanan pangan secara ketat, jangan ada tawar-menawar, jangan lagi ada standar keamanan itu berupa dicicipi dulu saja oleh gurunya,” tegasnya.
“Jadi gurunya suruh cicip-cicip itu bukan termasuk standar keamanan pangan pada MBG,” lanjut Piprim.
Piprim mengatakan, IDAI sebelumnya mengusulkan agar penyediaan MBG dilakukan melalui kantin sekolah. Dengan begitu, makanan dapat tetap dalam kondisi hangat saat dikonsumsi. Ia juga menyebut makanan dapat disajikan secara prasmanan sesuai dengan pilihan anak, serta mengutamakan anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti konsep awal program.
“Tapi sekarang setelah sekian lama kasus keracunan makan ini terus berulang, berulang, dan berulang. Bagi kami, satu saja anak yang sakit, satu saja anak keracunan itu tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.
Menurut Piprim, dampak keracunan tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak saat sakit, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kesehatan anak. Karena itu, ia meminta pemerintah sebagai penyelenggara program untuk terus memperhatikan standar keamanan pangan.
“Karena bagi orang lain mungkin satu anak itu hanya sekadar angka. Bahkan ada yang bilang 0,007%, katanya dari sekian juta anak. Tapi itu bagi keluarganya, anak itu bukan berupa angka ya. Anak keracunan itu bagi keluarganya adalah segala-galanya ya,” tutur Piprim.
“Kita bisa lihat bagaimana sedihnya seorang ibu dan ketika anaknya sesudah keracunan itu mengalami kemunduran luar biasa dari fungsi-fungsi kognitif dan kesehatannya,” sambungnya.
Piprim menambahkan, edukasi mengenai keamanan pangan juga perlu diberikan kepada guru dan siswa, termasuk cara mengenali makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan serta pertolongan pertama ketika anak mengalami keracunan makanan.
“Niatnya mulia, memberi makan, memberi gizi pada anak-anak. Tapi ketika pelaksanaannya abai terhadap food safety atau standar keamanan pangan, maka yang didapat bisa suatu fatalitas ya, dengan korbannya anak-anak,” pungkasnya.
(ain)






























