Yield tenor acuan 10 tahun juga ikut naik 5,3 bps ke 7,16%, seiring sentimen hawkish yang melanda pasar dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat kenaikan harga minyak mentah yang berada di US$108/barel.
Lonjakan yield ini juga terjadi di pasar obligasi kawasan Asia. Data Bloomberg menunjukkan, yield obligasi acuan negara berkembang terkerek naik, menyusul kenaikan pada yield obligasi pemerintah AS, US Treasury, dengan yield tenor 2 tahun melonjak 25 bps, sementara tenor 10 tahun naik ke 4,95%.
Yield obligasi 10 tahun India naik 4,2 bps ke 7,01%, Singapura naik 6,8 bps ke 2,43%, Jepang naik 6,4 bps 2,96%, dan Malaysia 11,2 bps ke 4,17%.
Sementara, yield obligasi Thailand naik lebih terbatas 3 bps ke 2,29%, China 0,8 bps jadi 1,68%, dan Indonesia naik 0,8 bps jadi 7,08%.
Pelaku pasar akan mencermati data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam ini waktu Indonesia.
Survei Bloomberg terhadap para ekonom memperkirakan CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, akan meningkat sekitar 0,2% secara bulanan pada Agustus.
Namun begitu, versi Bloomberg Economics sedikit berbeda. Tekanan CPI versi Bloomberg Economics relatif lebih terkendali, sehingga memberi ruang bagi The Fed menahan suku bunga pada posisi saat ini.
Untuk diketahui, berdasarkan CME Fed Watch, sekitar 69,6% pelaku pasar memperkirakan suku bunga AS akan naik pada pertemuan 16 September mendatang, sedangkan sisanya memperkirakan The Fed masih punya ruang cukup untuk mempertahankan FFR.
Dalam skenario itu, BI mungkin akan tetap berhati-hati, bahkan ketika perekonomian domestik masih membutuhkan stimulus.
(riset/aji)

































