Dia mengatakan prospek nikel dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. Namun, kondisi pasar dalam jangka pendek perlu dicermati seiring pertumbuhan pasokan yang terjadi.
Bernardus menambahkan Pemerintah Indonesia saat ini berupaya mengendalikan produksi nikel untuk menjaga tingkat harga agar tetap memberikan keuntungan bagi pelaku industri.
Di sisi permintaan, dia melihat penggunaan nikel masih memiliki ruang pertumbuhan, meskipun penetrasi baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP) terus meningkat. Saat ini, penetrasi LFP telah mencapai lebih dari 55% dari baterai kendaraan listrik global.
Namun, di luar China, sekitar 80% baterai kendaraan listrik masih menggunakan kimia berbasis nikel. Selain kendaraan listrik, permintaan nikel juga berpotensi datang dari pusat data, robotika, infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga energi terbarukan.
“Kalau kita lihat di luar China, hampir 80% baterai kendaraan listrik masih menggunakan nickel-based chemistry,” ujarnya.
Vale Indonesia sendiri tengah melakukan diversifikasi produksi melalui sejumlah proyek pertumbuhan, termasuk proyek high pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa dan Bahodopi. Perusahaan juga tetap mempertahankan produksi nickel matte serta mengembangkan produk antara seperti mixed hydroxide precipitate (MHP).
Harga Sulfur
Di tengah tantangan harga nikel, Vale juga menghadapi risiko dari kenaikan harga sulfur dan asam sulfat yang menjadi bagian penting dalam proses produksi smelter HPAL perseroan.
Manajemen mengatakan harga sulfur dan asam sulfat saat ini berada pada level tinggi. Untuk operasi Sorowako, kebutuhan elemental sulfur menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan.
Meski demikian, dampaknya terhadap operasi pada 2026 dinilai masih terbatas karena persediaan sulfur perusahaan diperkirakan mencukupi hingga kuartal III-2026. Perusahaan mulai mewaspadai potensi dampaknya pada kuartal IV-2026 dan terutama untuk kebutuhan 2027.
“Kalau terdampak, kemungkinan pada kuartal IV dan kita harus mengantisipasi untuk 2027,” kata Bernardus.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Vale tengah menguji penggunaan pirit sebagai sebagian substitusi sulfur. Perusahaan juga mencari sumber alternatif asam sulfat.
Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pembangunan fasilitas produksi asam sulfat di Pomalaa untuk memanfaatkan sulfur dari tailing proses HPAL.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap elemental sulfur di tengah kenaikan harga komoditas tersebut.
Manajemen menyebut tantangan harga sulfur dan asam sulfat perlu dikelola agar tekanan biaya tidak menggerus profitabilitas perusahaan.
Nikel dilego di US$16.666/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, turun 1,37% dari penutupan hari sebelumnya.
(fik/wdh)






























