Logo Bloomberg Technoz

Dengan demikian, margin perseroan diperkirakan tetap terjaga meskipun biaya produksi meningkat.

“Namun, meskipun dari sisi cash cost mengalami kenaikan, dari sisi margin dapat tetap terjaga karena dari sisi harga kenaikannya jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Bijih Naik 75%

Berdasarkan paparan perseroan, produksi bijih timah TINS pada semester I-2026 mencapai 12.232 ton, naik 75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Produksi bijih pada kuartal I-2026 tercatat 6.325 ton, sedangkan pada kuartal II mencapai 5.907 ton.

Pada rentang yang sama, produksi logam timah mencapai 10.865 ton, meningkat 58% dari semester I-2025 yang sebanyak 6.800 ton.

Penjualan logam timah paruh pertama tahun ini juga tumbuh 85% menjadi 10.984 ton, dari 5.933 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, peningkatan volume produksi tersebut berjalan bersamaan dengan kenaikan biaya produksi. Perseroan mencatat biaya produksi naik sekitar 11% menjadi US$22.435 per ton pada semester I 2026, dari sekitar US$20.148 per ton pada 2025.

Fina mengatakan kenaikan tersebut terutama berasal dari faktor eksternal yang berada di luar kendali perseroan. Salah satunya kenaikan harga BBM.

Dalam asumsi perencanaan awal tahun, harga BBM berada di sekitar Rp16.000 per liter. Namun sejak Maret—April, harga yang digunakan dalam perhitungan meningkat menjadi sekitar Rp30.000 per liter.

Selain BBM, peningkatan tarif royalti juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan biaya. Pertumbuhan produksi bijih, produksi logam, dan penjualan meningkatkan nilai royalti yang harus dibayarkan perseroan.

Perseroan menyebut tarif royalti sebesar 10% dari penjualan. Porsi royalti terhadap biaya produksi meningkat 102%, dari sekitar Rp2,596 juta per ton pada 2025 menjadi Rp5,250 juta per ton pada semester I 2026.

Efisiensi Produksi

Meski biaya produksi TINS secara keseluruhan meningkat, manajemen menyebut efisiensi pada aktivitas yang berada dalam kendali perseroan masih terjaga. Komposisi biaya produksi bijih terhadap total cash cost turun dari 58% pada 2025 menjadi 57% pada semester I-2026.

Sementara itu, komposisi biaya peleburan turun dari 5% menjadi 4%. Biaya peleburan juga turun dari sekitar Rp1,448 juta per ton pada 2025 menjadi Rp1,357 juta per ton pada semester pertama tahun ini.

Dengan demikian, manajemen menilai kenaikan biaya secara keseluruhan lebih banyak berasal dari faktor eksternal, sementara biaya pada aktivitas produksi bijih dan peleburan masih dapat dikelola.

Di tengah kenaikan biaya tersebut, harga jual rata-rata timah menjadi penopang kinerja TINS. Harga jual rata-rata pada semester I-2026 tercatat sekitar US$43.900 per ton, naik sekitar 52% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat perseroan masih melihat margin dapat dipertahankan meskipun biaya diproyeksikan meningkat hingga akhir tahun.

(fik/wdh)

No more pages