Logo Bloomberg Technoz

Beban Gas 40% Biaya Produksi, Industri Aluminium Minta HGBT US$7

Sabrina Mulia Rhamadanty
10 September 2026 08:40

Sebuah sistem konveyor yang digunakan untuk mengangkut batu bara berada di fasilitas Impala Terminals Burnside LLC di Darrow, Louisiana, AS./Bloomberg
Sebuah sistem konveyor yang digunakan untuk mengangkut batu bara berada di fasilitas Impala Terminals Burnside LLC di Darrow, Louisiana, AS./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) mendesak pemerintah agar memasukkan sektor industri aluminium ke dalam daftar penerima manfaat program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$7 per million british thermal unit (MMBtu).

Ketua Umum Galunesia Oktavianus Tarigan mengatakan langkah ini dinilai sangat krusial mengingat komponen biaya gas bumi porsinya mencapai 30%—40% dari total biaya produksi aluminium, sehingga tingginya harga gas saat ini sangat memberatkan operasional para pelaku usaha.

“Harga gas bumi yang ditanggung pelaku industri aluminium nasional saat ini berada di kisaran US$13 per MMBtu. Sebenarnya sudah turun jika dibandingkan dengan beberapa waktu lalu yang sempat menembus US$16 hingga US$17 per MMBtu, tetapi nilai itu tetap tergolong sangat mahal,” ujarnya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (9/9/2026).


Oktavianus menjelaskan tingginya tarif gas yang ada saat ini membuat beban biaya operasional industri aluminium membengkak hingga mencapai US$2,6 juta per bulan, berdasarkan kalkulasi estimasi kebutuhan gas nasional yang mencapai sekitar 200 ribu MMBtu per bulan. 

Pekerja di bengkel elektrolisis di smelter aluminium Khakas, yang dioperasikan oleh United Co. Rusal, di Sayanogorsk, Rusia./Bloomberg-Andrey Rudakov

Dari sisi asosiasi, apabila pemerintah bersedia mengabulkan penetapan tarif HGBT sebesar US$7 per MMBtu untuk sektor ini, industri aluminium berpotensi menghemat biaya operasional secara signifikan antara 30%—40%.