Sementara itu, Busa Asia justru kompak menapaki jalur merah, yang berseberangan jauh dengan IHSG. Pada 14:15 WIB, TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), KOSDAQ (Korea Selatan), KOSPI (Korea Selatan), SENSEX (India), Straits Times (Singapura), TW Weighted Index (Taiwan), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Shenzhen Comp (China), dan SETI (Thailand), yang terpangkas masing–masing mencapai 1,83%, 1,71%, 1,25%, 0,61%, 0,58%, 0,55%, 0,47%, 0,36%, 0,27%, 0,16%, 0,14%, dan 0,07%.
Sedang hanya PSEI (Filipina), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), dan Shanghai Composite (China), yang berhasil menguat menemani IHSG, dengan penguatan masing–masing 0,37%, 0,32%, dan 0,17%.
Bursa Saham Asia tersengat pelemahan yang terjadi di Bursa Saham Amerika Serikat. Pada perdagangan sebelumnya, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite, yang amblas mencapai 0,51%, 0,38%, dan 0,29%.
Adapun indeks global dan regional tertekan akibat memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah hingga mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi tersebut menambah kegelisahan pasar terhadap inflasi dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran melejitkan kembali kekhawatiran investor. Aksi militer tersebut menyusul hantaman kapal tanker Iran pada akhir pekan lalu. Teheran juga memperingatkan kapal-kapal menghadapi risiko serangan di dekat Oman.
Secara terpisah, fasilitas minyak Saudi Aramco di Jazan, dekat Laut Merah, kembali menjadi sasaran serangan pada Senin (7/9/2026) setempat, menurut sumber yang mengetahui masalah itu. Serangan itu menjadi yang terbaru dari serangkaian serangan yang sebelumnya telah memaksa sebuah kilang besar di area tersebut menghentikan operasinya.
Perang yang hingga saat ini memasuki bulan ketujuh telah mendorong kenaikan harga minyak, bahan bakar, dan gas alam serta mengancam memicu inflasi global.
Serangan tersebut mengerek kenaikan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga 3,3% ke posisi US$94,32 per barel, setelah pada sesi perdagangan sebelumnya juga melemah. Sementara itu, minyak jenis Brent juga melejit mencapai 3,4% menembus US$98,83 per barel.
(fad)































