Sebelumnya, TOWR menyebut free cash flow yang dihasilkan perseroan mencapai hampir Rp5 triliun. Arus kas tersebut dialokasikan ke belanja modal untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis, pembayaran kewajiban utang termasuk bunga dan deleveraging, serta shareholder return terutama dividen.
Di sisi biaya pendanaan, TOWR mencatat blended financing sebesar 5,5% pada enam bulan pertama 2026, atau masih di bawah 6%.
Perseroan juga mengatakan terus mengelola komposisi pinjaman antara fixed rate interest dan floating rate interest untuk menjaga beban bunga.
“Kami mulai manage loan kami daripada kombinasi yang ideal untuk fixed rate interest dan juga floating rate interest. Itu juga salah satu inisiatif kami untuk menjaga agar loan kami, interest expense kami lebih terjaga,” ujar manajemen.
TOWR menambahkan bahwa sekitar 85% pinjaman perseroan berdenominasi rupiah. Sementara sekitar 15% pinjaman dalam mata uang asing telah sepenuhnya dilindung nilai ke rupiah, sehingga perseroan menyatakan tidak akan terdampak perubahan nilai tukar dari pinjaman tersebut.
Dari sisi profil kredit, TOWR mempertahankan peringkat investment grade dengan rating BBB- dari S&P dan BBB dari Fitch. TOWR juga mencatat remaining contracted revenue lebih dari Rp100 triliun, yang menurut manajemen setara dengan sekitar sembilan tahun pendapatan.
Peluang Spektrum
TOWR melihat peluncuran spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz oleh pemerintah sebagai salah satu peluang pertumbuhan bisnis perseroan, seiring kebutuhan pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi.
Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan tambahan spektrum tersebut dapat mendorong peningkatan kecepatan mobile broadband di Indonesia sekaligus membuka peluang baru bagi bisnis infrastruktur digital perseroan.
“Frekuensi baru dilancarkan oleh pemerintah ini adalah the biggest bandwidth yang baru dilancarkan sekarang sekitar ada sekitar 260 MHz. Nah, ini menjadi driver dan opportunity baru yang kita lihat,” ujar Indra dalam Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, peluang tersebut juga berkaitan dengan pengembangan teknologi 5G di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan manajemen TOWR, cakupan 5G di Indonesia saat ini masih kurang dari 6%.
Indra mengatakan pengembangan 5G membutuhkan dukungan infrastruktur digital, termasuk menara dan jaringan fiber optik. Penggunaan fiber dinilai semakin penting karena jaringan 5G tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan microwave sebagai backhaul.
“Untuk mendorong implementasi 5G di Indonesia itu juga memerlukan jumlah infrastruktur digital, apakah itu bentuknya menara juga fiber optik. Karena pada waktu kita bicara 5G kita sudah tidak bisa lagi disupport dengan microwave sehingga fiber optik akan menjadi tulang punggung baru dalam konteks 5G ke depan,” jelasnya.
TOWR saat ini memiliki sekitar 37.000 menara dan jaringan fiber sepanjang 182.000 kilometer yang tersebar di Indonesia. Perseroan mengembangkan bisnisnya dari penyedia menara telekomunikasi menjadi platform infrastruktur digital yang mencakup menara, fiber, connectivity, hingga bisnis pendukung lainnya.
(dhf)
































