Kelebihan HVO
1. Emisi Karbon Jauh Lebih Rendah dan Ramah Lingkungan
Penggunaan HVO mampu memangkas emisi gas rumah kaca secara signifikan dibandingkan dengan FAME konvensional.
Pembakaran di dalam ruang bakar berlangsung jauh lebih bersih sehingga menurunkan kadar jelutih (soot) serta partikulat berbahaya ke udara.
Dampaknya, kendaraan yang mengonsumsi B60 berbasis HVO membantu mempercepat pencapaian target emisi nol bersih atau net zero emission (NZE).
“Selain mereduksi jejak karbon di industri transportasi, emisi yang lebih bersih ini juga memperpanjang umur pakai filter udara dan sistem pembuangan kendaraan,” ungkap Ali saat dihubungi, Senin (7/9/2026).
2. Karakteristik Senyawa Mirip Solar Murni (Drop-in Fuel)
Proses pemrosesan HVO yang melalui metode hidrogenasi berhasil menghilangkan kandungan oksigen. Hal tersebut menghasilkan struktur hidrokarbon murni yang setara dengan solar fosil, sehingga angka setana (cetane number) HVO menjadi sangat tinggi di atas 70.
Berbeda dengan FAME yang berisiko mengendap atau merusak komponen karet mesin pada konsentrasi tinggi, HVO dapat langsung dicampur hingga porsi B60 tanpa perlu modifikasi mesin.
“Karakteristik HVO jauh lebih mendekati solar fosil, baik dari segi nilai kalor maupun sifat umumnya. Ketika di-blend dengan solar, HVO lebih mudah bercampur secara sempurna [homogen] dan menghasilkan biosolar yang karakternya sangat mirip dengan solar murni/fosil,” jelas Ali.
Menurutnya, pengolahan HVO membuat kualitas pembakaran mesin diesel tetap berada pada kondisi prima.
“Kinerja pembakaran mesin diesel tetap optimal, responsif, dan bebas dari masalah filter clogging [penyumbatan filter],” jelasnya.
3. Kestabilan Oksidasi yang Lebih Baik dan Tahan Lama
HVO tidak memiliki sifat higroskopis (mudah menyerap air) dan tidak rawan teroksidasi saat disimpan lama seperti bahan bakar nabati generasi pertama. Hal ini terjadi karena HVO bebas dari gugus ester.
Sifat kimia yang stabil tersebut membuat penyimpanan jangka panjang untuk armada komersial maupun cadangan industri menjadi jauh lebih aman dan efisien.
“Sebaliknya, HVO bukan kelompok ester seperti FAME, HVO tidak memiliki sifat higroskopis maupun solvent [pelarut], dan viskositas [kekentalan]-nya berbeda dari FAME,” jelas Ali.
Kekurangan HVO
1. Biaya Produksi dan Nilai Investasi Kilang yang Tinggi
Proses manufaktur HVO membutuhkan teknologi hydrotreating canggih dengan konsumsi gas hidrogen yang sangat besar serta tekanan tinggi.
Kebutuhan teknis ini membuat biaya produksi HVO jauh melebihi biaya pembuatan FAME biasa.
Tingginya nilai investasi untuk membangun kilang baru atau mengonversi kilang eksisting menjadi tantangan ekonomi tersendiri.
Kondisi ini berpotensi mendongkrak harga jual akhir B60 di pasaran jika tidak diimbangi dengan skema insentif atau subsidi pemerintah yang tepat.
Ali menegaskan bahwa perbedaan rantai produksi dan karakteristik bahan baku antara HVO dan FAME secara langsung memicu selisih harga produksi yang cukup signifikan di pasaran.
“HVO memang proses pengolahannya lebih panjang dan biayanya lebih mahal. Itu hal yang wajar karena kualitasnya jauh berbeda dengan FAME. Kalau FAME itu masih masuk kategori ester dengan sifat-sifat khas ester, tetapi rantai produksinya lebih pendek dan lebih mudah. Bahan-bahannya pun berbeda,” katanya.
Ali mengatakan selisih atau gap harga antara HVO dan FAME bisa berkisar Rp10.000 per liter. Adapun, pada konsumen akhir, selisih harga ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga Rp1.000—Rp2.000 per liter.
“Kalau ditanya dari sisi harga, FAME sekarang rata-rata berada di kisaran Rp14.000 per liter. Sementara itu, harga HVO sudah mencapai kisaran Rp24.000 per liter. Jadi bedanya bisa sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat dari harga FAME,” tambahnya.
2. Keterbatasan Pasokan Bahan Baku dan Fasilitas Pengolahan
Meskipun menggunakan bahan baku nabati seperti minyak sawit atau crude palm oil (CPO) atau minyak jelantah atau used cooking oil (USO), rantai pasok HVO masih tergolong terbatas di dalam negeri.
Jumlah fasilitas pengolahan yang mampu memproduksi green diesel dalam skala komersial masih sangat sedikit. Kondisi ini membuat pasokan HVO untuk memenuhi kebutuhan B60 secara nasional berisiko mengalami kemacetan pasokan (supply bottleneck).
“Sekarang itu baru ada di kilang-kilang tertentu saja. Selain itu, bahan bakunya masih menggunakan CPO, belum memanfaatkan sumber lemak nabati yang lain,” ungkap Ali.
“Jadi produksinya kecil sekali dan hanya cukup untuk kebutuhan internal Pertamina. Kalau untuk dilepas ke pasar luar, tidak akan mungkin mencukupi,” tambahnya.
Ali juga menyebutkan secara spesifik bahwa saat ini hanya ada satu lokasi kilang yang memproduksi HVO di Indonesia milik PT Pertamina (Persero) yaitu Green Refinery di Kilang Cilacap (Refinery Unit IV), Jawa Tengah
“Saat ini, pusat produksi utama HVO atau Green Diesel baru dari Pertamina dan itu pun baru di satu lokasi, di Kilang Cilacap,” kata Ali.
Ali menegaskan bahwa keberlanjutan program B60 sangat bergantung pada percepatan pembangunan infrastruktur kilang khusus serta kepastian rantai pasok bahan baku terbarukan.
Sebelumnya, potensi percampuran HVO 10% dalam biodiesel diungkap oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listyani Dewi.
Dia menjelaskan opsi penggunaan HVO sedang dalam tahap pengkajian intensif oleh para ahli.
"Para peneliti juga mulai mengkaji potensi B60—apakah formulanya B50 ditambah 10% HVO," jelas Eniya dalam agenda IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9/2026).
Dia juga menyebutkan HVO sudah diproduksi oleh Pertamina, meski begitu harga bahan bakar nabati berbasis hydrotreated tersebut masih relatif mahal, yakni berkisar 1,5 hingga 2 kali lipat dari harga FAME.
Selain persoalan formula dan biaya, pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini masih tertuju pada pengawasan serta penuntasan distribusi B50 sebelum melangkah ke uji coba B60 secara penuh.
"Belum, saat ini fokus utama kami masih pada pengawasan B50," tegas Eniya.
Eniya menambahkan penyaluran B50 saat ini berada dalam tahap pemantauan akhir.
Penyaluran di lingkup Pertamina telah menembus angka lebih dari 90%, sementara rata-rata penyaluran nasional yang menggabungkan sektor non-Pertamina telah mencapai sekitar 80%.
"Mengenai B50, saat ini masih dalam tahap pengawasan selama dua bulan. Penyaluran B50 di Pertamina sudah lebih dari 90%, sedangkan jika dirata-ratakan dengan sektor non-Pertamina mencapai sekitar 80%," terang Eniya.
Pemerintah optimistis keberhasilan penerapan B50 akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor pengembang bahan bakar nabati tingkat tinggi di dunia.
"Kami masih memantau satu bulan ini agar seluruh penyaluran terpenuhi. Indonesia ini pionir di dunia untuk B50; bahkan belum ada jurnal internasional yang membahasnya, justru para peneliti kita yang sedang menulis untuk mempublikasikannya secara internasional," kata Eniya.
Untuk diketahui, HVO merupakan salah satu inovasi bahan bakar alternatif yang paling menjanjikan dalam transisi energi bersih dunia saat ini.
HVO diproduksi melalui proses hidrogenasi, di mana minyak nabati atau lemak hewani direaksikan dengan hidrogen pada tekanan dan suhu tinggi.
Berbeda dengan FAME, HVO memiliki stabilitas penyimpanan yang sangat tinggi, titik beku yang lebih rendah, serta bebas dari sifat korosif yang sering menyumbat saringan mesin.
(smr/wdh)





























