Kenaikan harga terbesar terjadi di India, dengan harga ponsel yang sudah beredar naik rata-rata 21% sepanjang 2026. Setelahnya ada kawasan Asia Pasifik sebesar 19% dan Timur Tengah serta Afrika (MEA) sebesar 18%. Sementara itu, Amerika Latin mencatat kenaikan sekitar 16%.
Besarnya kenaikan di pasar-pasar tersebut berkaitan dengan tingginya kontribusi ponsel kelas bawah dan menengah terhadap total penjualan. Segmen tersebut memiliki ruang margin yang lebih terbatas, sehingga produsen lebih sulit menyerap kenaikan biaya komponen.
Di Amerika Latin, kenaikan harga juga didorong oleh berkurangnya diskon promosi. Akibatnya, harga efektif yang dibayarkan konsumen mengalami peningkatan meskipun harga resmi sejumlah perangkat tidak berubah secara drastis.
Berbeda dengan pasar yang sensitif terhadap harga, negara dengan komposisi ponsel premium lebih besar mengalami kenaikan yang relatif moderat.
China mencatat kenaikan harga sekitar 10%, sementara Eropa 7% dan Amerika Serikat 5%. Di pasar tersebut, kenaikan harga lebih banyak terlihat pada perangkat baru yang diluncurkan pada 2026, bukan pada model yang sudah beredar sebelumnya.
Tak Hanya Naikkan Harga, Spesifikasi Dikurangi
Di tengah kenaikan harga komponen, produsen ponsel tidak hanya menaikkan harga jual. OEM juga mulai melakukan penyesuaian spesifikasi untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali.
Salah satu strategi yang digunakan adalah menawarkan kapasitas penyimpanan lebih rendah pada sejumlah model. Produsen juga mengurangi konfigurasi kamera dan pada segmen harga tertentu kembali menawarkan smartphone dengan konektivitas 4G untuk menekan biaya.
Strategi tersebut memungkinkan produsen mempertahankan perangkat pada tingkat harga tertentu tanpa sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya komponen kepada konsumen.
Di sisi permintaan, kenaikan harga mulai mengubah perilaku konsumen. Sebagian konsumen memilih menunda upgrade, menunggu periode promosi atau penjualan besar, serta memilih model dengan kapasitas penyimpanan lebih rendah.
Pasar perangkat bekas dan refurbished juga berpotensi mendapatkan keuntungan dari perubahan perilaku tersebut karena konsumen mencari alternatif yang lebih terjangkau.
Apple Masih Pertahankan Harga
Di tengah kondisi tersebut, Apple menjadi salah satu perusahaan yang masih mempertahankan harga iPhone. Counterpoint menilai hal tersebut cukup signifikan mengingat iPhone menyumbang lebih dari separuh total pendapatan Apple.
Keputusan mempertahankan harga juga terjadi ketika harga memori disebut telah meningkat empat kali lipat sejak kuartal IV 2025, sementara tekanan ekonomi makro masih berlangsung. Senior Analyst Counterpoint Research Karn Chauhan memperkirakan tekanan harga smartphone belum akan berakhir dalam waktu dekat.
"Harga ponsel baru diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa kuartal mendatang, termasuk untuk seri iPhone 18 yang akan datang,” kata Chauhan.
Menurutnya, kelangkaan memori dan tingginya harga komponen diperkirakan masih berlangsung dalam jangka pendek. Kondisi tersebut akan memberikan tekanan tambahan terhadap margin keuntungan produsen ponsel.
OEM kemungkinan akan semakin memprioritaskan model kelas atas karena perangkat premium memberikan margin yang lebih besar.
Sementara untuk pasar yang sensitif terhadap harga, produsen diperkirakan lebih banyak menggunakan perubahan spesifikasi, konfigurasi penyimpanan dan optimalisasi portofolio produk untuk membatasi kenaikan harga.
(mef/wep)






























