Logo Bloomberg Technoz

“Dalam 12 bulan terakhir, kami melihat sebagian besar permintaan baru berasal dari pelanggan AI dan hyperscale,” kata CEO Digital Edge Indonesia Stephanus Oscar.  

Risiko mengintai

Kehadiran pusat data di pusat ekosistem digital dan bisnis, bagi operator pusat data memang krusial mengingat mereka berkepentingan untuk menekan tingkat latensi. Begitu juga ketersediaan jaringan utilitas, pasokan listrik tegangan tinggi, dan instrumen pendukung lain yang lebih mudah didapatkan di area yang perkotaan. 

Hanya saja, di balik kian banyaknya bermunculan pusat data di tengah perkotaan, menyodorkan risiko yang tak kecil. Risiko ekologi menjadi hal yang disoroti termasuk yang datang dari masalah air dan potensi kenaikan suhu di kawasan di mana pusat data tersebut berdiri.

Mengacu pada simulasi BRIN, apabila total kapasitas pusat data di Jakarta naik hingga 1 gigawatt, maka akan melahirkan energi panas hingga 100 gigajoule per hari yang bisa memantik kenaikan temperatur sebesar 0,5 derajat celcius per hari. Hitungan itu dengan asumsi pusat data tanpa pendingin udara. Sedangkan bila dilengkapi pendingin udara, output panas akan lebih besar lagi. 

Bagaimana bisnis pusat data di Indonesia sejauh ini dan potensi ke depan? Juga, sejauh mana regulasi terkait pengaturan pusat data ini dapat memitigasi risiko ekologi? Baca selengkapnya di Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Agustus 2026.

Untuk mengakses liputan lengkap, pembaca dapat menikmati seluruh konten Bloomberg Businessweek Indonesia dalam berbagai edisi secara GRATIS, tanpa batasan, cukup mendaftar di https://www.bloombergtechnoz.com/businessweek atau membaca e-magazine di sini.

 

(bbw)

No more pages