Logo Bloomberg Technoz

Ribut mengatakan tantangan di pasar digital tidak hanya berasal dari produk palsu, tetapi juga ulasan palsu dan pesanan palsu yang dapat memengaruhi keputusan konsumen.

Di tengah masifnya perdagangan digital, dia mengatakan konsumen produk kecantikan saat ini semakin kritis. Sekitar 41% penjualan produk kecantikan dan perawatan pribadi secara global dilakukan melalui e-commerce.

Selain itu, sekitar 86% konsumen lebih mungkin membeli produk apabila dapat membandingkannya dengan produk lain. Konsumen juga semakin memperhatikan bahan, izin edar, dan ulasan sebelum membeli produk.

"Jadi konsumen semakin kritis, semakin teliti soal bahan, izin edar, dan pasti membaca review," kata Ribut.

Sementara itu, Ketua Perkosmi Sancoyo Antarikso mengatakan industri perlu menjaga kepercayaan konsumen dengan memastikan seluruh pelaku usaha memahami dan menjalankan regulasi yang berlaku.

Sancoyo mengatakan Perkosmi memberikan edukasi kepada anggotanya melalui pelatihan, webinar, hingga klinik pelatihan. Perkosmi juga mengedukasi konsumen melalui berbagai saluran komunikasi agar dapat memastikan produk yang dibeli aman dan sesuai ketentuan.

Dia mengungkapkan Badan Pengawas  Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun lalu telah menurunkan sekitar 179.000 tautan produk ilegal, dengan 73.000 di antaranya merupakan kosmetik.

"Ini memang masif sekali, terkadang satu orang bisa punya seribu tautan produk," ujarnya.

Menurut Ribut, penguatan ekosistem kosmetik digital perlu dilakukan melalui empat aspek, yakni integritas platform, tata kelola yang bersih, transparansi data produk, dan literasi konsumen.

"Kalau ekosistemnya beretika dan bertanggung jawab, maka konsumen akan terlindungi. Kuncinya adalah pertumbuhan yang terpercaya," pungkasnya.

(dec/spt)

No more pages