Logo Bloomberg Technoz

Kesepakatan ini merupakan investasi finansial terbesar yang dilakukan oleh perusahaan minyak besar di negara tersebut sejak pasukan khusus AS menangkap mantan pemimpinnya, Nicolás Maduro, pada Januari.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi industri bahan bakar fosilnya telah terpuruk akibat salah urus, korupsi, dan sanksi yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Secara terpisah, pemerintah AS pada awal pekan ini menegosiasikan kepemilikan saham sebesar 35% di North American Blue Energy Partners (NABEP), perusahaan swasta yang memegang konsesi selama 100 tahun atas 17 ladang minyak di Venezuela.

Wirth menolak berkomentar mengenai investasi AS di NABEP. Namun, ia menyatakan menghargai komitmen pemerintahan Trump terhadap "solusi komersial" yang akan menguntungkan kedua negara.

"Pemerintah mengakui bahwa sumber daya energi Venezuela dapat menjadi pendorong bagi keamanan energi Amerika Serikat sekaligus pemulihan ekonomi Venezuela."

Ia mengatakan Chevron telah memasukkan "perlindungan signifikan" ke dalam kesepakatan tersebut untuk melindungi investasinya, tetapi menolak menjelaskan detail kontrak tersebut.

Perusahaan berharap dapat memasukkan kembali sebagian cadangan minyak Venezuela ke dalam pembukuan setelah sebelumnya melakukan penghapusan nilai aset beberapa tahun lalu, katanya.

Produksi Minyak Venezuela. (Bloomberg)

Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan swasta berskala kecil memimpin upaya AS dalam menegosiasikan kesepakatan minyak di Venezuela. Kemajuan berjalan lambat, dan mereka tidak memiliki kekuatan finansial yang setara dengan Chevron untuk pengadaan peralatan pengeboran dan produksi berskala besar yang diperlukan guna meningkatkan hasil produksi.

Chevron menargetkan produksi minyak sekitar 600.000 barel per hari dari Venezuela pada 2031, lebih dari dua kali lipat tingkat produksi saat ini. Potensi sumber daya yang melimpah di negara tersebut diperkirakan akan bertahan selama "puluhan tahun," dengan total biaya produksi diperkirakan kurang dari US$20 per barel, menurut pernyataan perusahaan.

Harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai hampir US$87 per barel tahun ini, mengindikasikan margin keuntungan yang signifikan. Chevron biasanya mengekspor minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang di Pantai Teluk AS, yang mengolahnya menjadi produk seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet.

Tambahan produksi sebesar 300.000 barel per hari yang ditargetkan Chevron dalam lima tahun ke depan mewakili peningkatan hampir 30% dari total produksi Venezuela yang saat ini sekitar 1,1 juta barel per hari.

Meski demikian, tanpa investasi lebih lanjut, tingkat produksi negara tersebut akan tetap jauh di bawah angka hampir 3,5 juta barel per hari yang pernah dicapai pada akhir 1990-an, sebelum mantan Presiden Hugo Chávez menasionalisasi industri tersebut.

Pesaingnya, ExxonMobil Holdings Corp dan ConocoPhillips, hengkang dari negara tersebut pada pertengahan 2000-an setelah aset mereka dinasionalisasi.

Namun, Chevron memilih tetap bertahan, dengan menegosiasikan kesepakatan yang memungkinkan perusahaan terus memproduksi minyak mentah. Ini merupakan pengaturan yang tidak lazim dan menuai kritik baik di AS maupun di Venezuela.

Para kritikus AS menuduh perusahaan menyalurkan uang ke rezim yang korup, sementara sebagian pihak di Venezuela memandangnya sebagai simbol abadi imperialisme AS.

Operasi Chevron sempat terbatas selama sebagian besar dekade terakhir akibat sanksi AS yang diterapkan secara pasang-surut. Hal ini membuat aktivitas perusahaan sebagian besar terbatas pada pemeliharaan peralatan dan penagihan utang dari mitranya, perusahaan minyak milik negara Petróleos de Venezuela SA (PDVSA).

Di sisi lain, Chevron menyatakan kehadirannya turut menstabilkan ekonomi Venezuela dengan menyediakan pasokan dolar di tengah hiperinflasi dan kekacauan ekonomi, sekaligus memasok minyak mentah ke pasar minyak global.

Hal ini juga menempatkan Chevron pada posisi yang sangat menguntungkan ketika pemerintahan Trump mencabut sanksi terhadap Maduro awal tahun ini.

Kesepakatan hari ini terbantu oleh kondisi baik dari operasi perusahaan yang sudah ada di negara tersebut, ujar Wirth. "Hal ini berkat dedikasi dan komitmen orang-orang hebat yang terus bekerja melewati masa-masa penuh ketidakpastian dan kecemasan."

(bbn)

No more pages