"Tingginya harga minyak mengancam akan menyulut kembali inflasi, yang meningkatkan risiko pengetatan kebijakan moneter," kata Fawad Razaqzada dari Forex.com. "Hal lain yang mengikis kepercayaan investor adalah kenaikan berkelanjutan pada yield obligasi global—yang berjalan seiring dengan pergerakan harga minyak."
Donald Trump mengatakan serangan AS merupakan aksi balasan atas upaya Iran memasang ranjau di selat tersebut serta serangan sebelumnya terhadap sebuah pangkalan militer di Yordania. Dia memperingatkan akan ada serangan lanjutan jika Teheran memberikan respons.
Pertukaran serangan tersebut terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang, ketika pemerintahan Trump mengalihkan fokus dari aksi militer ke tekanan ekonomi terhadap Teheran. Kedua pihak belum menunjukkan banyak keinginan untuk kembali berunding sejak kesepakatan perdamaian sementara runtuh.
Ketegangan terbaru menambah tekanan terhadap Wall Street akibat aksi jual obligasi global yang semakin dalam, karena kenaikan imbal hasil menekan valuasi saham. Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh baru-baru ini di Jackson Hole juga mendorong investor meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Di AS, saham perusahaan pembuat cip memangkas sebagian kerugian awal. Nvidia Corp turun 1,5% pada Selasa setelah sempat merosot hingga 2,6%, sementara Advanced Micro Devices Inc turun 2,4% dan Micron Technology Inc melemah 2,6%. SanDisk Corp, salah satu saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 tahun ini, turun 1,9%.
Penurunan tersebut terjadi pada awal bulan yang secara historis menjadi periode terlemah bagi saham AS. Dalam tiga dekade terakhir, S&P 500 rata-rata turun 0,8% pada September, dibandingkan dengan rata-rata kenaikan 0,9% pada 11 bulan lainnya. Namun, indeks tersebut justru mencatat kinerja berlawanan dari tren tersebut dalam dua tahun terakhir.
Sinyal hawkish dari The Fed dan kembali meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga energi telah memperkuat taruhan terhadap kenaikan suku bunga dalam pertemuan bank sentral pada 16 September. Laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat dapat menjadi petunjuk berikutnya mengenai arah kebijakan, dengan inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.
"Warsh akan mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap kompensasi inflasi di berbagai rentang waktu serta terhadap imbal hasil obligasi," ujar Krishna Guha dari Evercore. "Satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed hanya akan berdampak kecil terhadap imbal hasil jangka panjang, dan bahkan dua atau tiga kali kenaikan pun mungkin tidak akan memberikan dampak yang signifikan."
(bbn)





























