Logo Bloomberg Technoz

Namun, kinerja ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru turun dari 2,45% menjadi 1,89%. Begitu juga dengan sektor pertambangan ikut turun dari 12,56% menjadi 11,73%. 

Pertumbuhan ekspor Indonesia yang semakin ditopang oleh barang hasil pengolahan ini memang positif, sebab kini Indonesia tak cuma bergantung pada komoditas primer. Namun, peningkatan industri pengolahan terutama yang didorong oleh nikel belum menunjukkan adanya transformasi industri manufaktur maupun diversifikasi komoditas. 

Dari 10 komoditas ekspor non-migas terbesar, nikel dan barang daripadanya menjadi kelompok yang paling dominan alias motor penggerak utama ekspor dengan nilai mencapai US$2,41 miliar, atau setara dengan 49,84%. Bahan bakar mineral menyusul dengan nilai US$1,96 miliar, atau 11,05%.

Sementara, lemak hewani/nabati US$1,76 miliar atau 9,07%, berbagai produk kimia naik 13,36%, kendaraan dan bagiannya naik 9,55%, mesin/perlengkapan elektrik tumbuh 4,59%, besi dan baja tumbuh 2,77%, mesin/peralatan mekanis 7,5%, serta alas kaki 4,5%. 

Kecuali logam mulia dan perhiasan yang turun 40,08% menjadi US$2,59 miliar, 10 kelompok komoditas tersebut menyumbang 64,39 ekspor nonmigas. 

Kinerja Impor

Sementara sepanjang Januari-Juli 2026, pertumbuhan impor melonjak 19,94% yoy, menjadi US$160,01 miliar, dari posisi periode yang sama tahun lalu US$152.09 miliar. Kenaikan ini berasal dari impor non-migas yang naik 16,78%, dan impor migas yang tercatat melonjak sebesar 40,24%.

Bahkan pada Juli saja, impor migas meroket 49,91% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas ini meningkat ditopang oleh naiknya impor minyak mentah sebesar 41,81%, dan hasil minyak 39,66%. Pada Juli, impor melambung 27,02%.

Struktur impor didominasi oleh bahan baku yang tumbuh 20,42% senilai US$116,7 miliar, barang modal tumbuh 20% dengan nilai US$32,46 miliar, dan barang konsumsi US$14,16 miliar tumbuh 16,03%. 

Dengan pertumbuhan impor yang ditopang oleh bahan baku yang porsinya mencapai 71,45% dari total nilai impor, maka lonjakan impor juga bisa mencerminkan adanya peningkatan kebutuhan input bagi aktivitas ekonomi dan kuatnya permintaan domestik. 

Surplus Menyempit 

Meski ekspor tercatat tumbuh, tetapi kemampuan ekspor yang belum mampu mengimbangi kecepatan impor menyebabkan surplus perdagangan pada tujuh bulan pertama 2026 ambruk 84,4% secara tahunan, menjadi US$3,7 miliar dari periode yang sama tahun lalu di posisi US$23,77 miliar. Bahkan, pada Juli, neraca perdagangan nyaris kembali ke titik impas, hanya surplus US$121,9 juta. 

Surplus perdagangan US$3,7 miliar ini sebenarnya ditopang oleh kinerja surplus non-migas yang sebesar US$22,45 miliar. Namun defisit migas yang sebesar US$18,75 miliar menggerus sebagian besar surplus itu. 

Lonjakan impor migas ini disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah senilai US$848,3 juta atau 49,11% dan hasil minyak sebesar US$406,3 juta atau 51,68%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas, memperkirakan surplus perdagangan tetap tipis dan volatil. “Kami memperkirakan neraca perdagangan akan tetap berada dalam kisaran surplus yang tipis, karena penguatan ekspor manufaktur akan diimbangi oleh tingginya impor energi dan kuatnya permintaan domestik,” kata Harry, dalam catatannya. 

Ia menambahkan, surplus Juli hanya memberikan dampak positif yang marginal terhadap rupiah, sementara menyusutnya bantalan eksternal membuat aset-aset Indonesia semakin terekspos terhadap volatilitas global dan kenaikan harga minyak.

(dsp/aji)

No more pages