Berambisi mencari pasar baru untuk gas yang dulu dikirim ke Eropa melalui pipa, Rusia sangat mengandalkan penjualan LNG.
Sanksi AS dan Eropa terhadap Arctic LNG 2, pabrik ekspor andalannya, memaksa Moskwa menunda target untuk melipatgandakan produksi bahan bakar tersebut hingga tiga kali lipat pada 2030. Namun, Rusia merespons dengan cepat membangun armada bayangan yang mampu menjaga pasokan bahan bakar terus mengalir ke arah timur.
“Moskwa sedang menyiapkan infrastruktur logistik untuk mengirim LNG dalam jumlah yang semakin besar ke Asia dari Arctic LNG 2,” kata Malte Humpert, pendiri Arctic Institute, lembaga think-tank yang berbasis di Washington.
Masalahnya, hanya ada satu pembeli untuk LNG yang dikenai sanksi tersebut: China.
Ekspor energi, baik melalui jalur laut maupun pipa, turut memperkuat hubungan antara Moskwa dan Beijing. Xi dan Putin bertemu pada Senin di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgistan untuk membahas hubungan bilateral, termasuk—menurut pihak Rusia—masalah gas.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump belum mengambil tindakan tegas terhadap industri gas Rusia maupun armada bayangan yang terus berkembang tersebut.
Washington belum melontarkan ancaman ataupun memberlakukan pembatasan terhadap pembelian bahan bakar yang masuk daftar hitam tersebut oleh China—kegiatan yang dimulai tahun lalu dan kian meningkat pada 2026.
Hal ini berbeda dengan pemerintahan Biden, yang menjatuhkan sanksi terhadap proyek-proyek LNG termasuk Arctic LNG 2, serta kapal-kapal dan fasilitas penyimpanan yang mendukung operasinya.
Namun, untuk memaksimalkan fasilitas tersebut, Moskwa perlu memperkuat armadanya. Arctic LNG 2 terletak di wilayah terpencil Siberia Barat, di mana perairan beku membatasi navigasi selama sebagian besar tahun.
Bahan bakar tersebut harus terlebih dahulu diangkut menggunakan kapal tanker pemecah es yang dirancang khusus sebelum dipindahkan ke fasilitas penyimpanan di Timur Jauh Rusia dan ke arah barat, di mana kemudian dipindahkan ke kapal konvensional untuk dikirim ke pembeli.
"Kapasitas pengangkutan tetap menjadi kendala utama," ujar Daria Melnik, Wakil Presiden bidang riset minyak dan gas di Rystad Energy.
Penambahan armada kapal yang terus berlanjut telah mendorong Rystad menaikkan perkiraan produksi Arctic LNG 2 tahun 2026 sebesar sekitar 9%—menjadi 5 juta ton—dari proyeksi Juli.
Dengan armada saat ini, fasilitas tersebut dapat mengekspor 5,2 juta hingga 5,4 juta ton per tahun menurut Rystad—angka yang masih jauh di bawah total kapasitas tahunan sebesar 13,2 juta ton dari dua unit produksi yang beroperasi.
Capaian tersebut tetap menandai kemajuan bagi fasilitas yang selama bertahun-tahun kesulitan mengeluarkan bahan bakar dari wilayah Arktik dan mencari pembeli yang berminat. Saat ini, unit produksi ketiga sedang dalam tahap perakitan.
Salah satu hambatan signifikan akan teratasi seiring penambahan kapal kelas es berkapasitas tinggi, yang diperlukan untuk melintasi perairan beku Arktik bahkan di musim dingin.
Tiga kapal Arc7 kini beroperasi, mendekati jumlah yang dapat secara signifikan meningkatkan kapasitas, dan lebih banyak lagi sedang dibangun. Satu kapal diperkirakan akan selesai pada akhir tahun ini, menurut Moskwa.
"Pada prinsipnya, empat kapal kelas es Arc7 dapat memungkinkan dua unit produksi beroperasi mendekati kapasitas penuh, tetapi hanya jika transshipment [kegiatan alih muat] dapat ditingkatkan secara efisien di perairan Rusia," kata Ashley Sherman, analis LNG senior di Vortexa.
Selain kapal-kapal tersebut dan kapal-kapal Arc4-nya, yang mampu menembus es yang lebih tipis, Rusia memiliki 12 kapal konvensional untuk perjalanan jarak jauh ke China selama musim dingin, ketika rute utara ke Asia terlalu beku. Rystad memperkirakan Rusia mungkin membutuhkan hingga 30 kapal konvensional agar pabrik tersebut dapat beroperasi pada kapasitas penuh.
Artinya, Moskwa perlu terus memperluas armada "kapal gelap" (dark fleet) miliknya.
(bbn)






























