Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede, kenaikan inflasi yang masih berada di kisaran 3,19% secara tahunan belum membutuhkan kenaikan suku bunga. Angka ini masih berada dalam rentang target BI sebesar 2,5±1%.
Josua menilai, BI akan menggunakan nilai tukar sebagai penentu utama keputusan BI Rate pada September ini. "Selama rupiah masih dapat dijaga di bawah sekitar Rp18.000–Rp18.100?US$, arus modal tetap masuk, dan inflasi inti terkendali, maka mempertahankan BI Rate di 5,75% lebih masuk akal," kata Josua.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia hari ini juga tertekan. Hanya rupee India dan dolar Taiwan yang mampu menguat. Sedangkan, mata uang lainnya melemah, dengan won Korea Selatan melemah paling tajam sebesar 0,38%.
Kenaikan harga minyak yang berada di atas US$90/barel kembali jadi pemicunya. Ketidakpastian geopolitik yang membayangi pasar keuangan kembali terjadi, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz. Sementara, indeks dolar AS juga kembali menguat ke 99,45, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Sikap hawkish The Fed telah mengerek kenaikan yield di pasar US Treasury tenor panjang. US Treasury tenor panjang 10 hingga 30 tahun naik pada perdagangan kemarin waktu setempat, menyusul komentar hawkish Gubernur The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,8 bps menjadi 4,77% dan tenor 20 tahun naik 6,7 bps ke 5,27%.
Di tengah ekspektasi ini, investor global sepertinya berpotensi memasang mode risk-off dan mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset di pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.
(dsp/aji)





























