Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2026 tercatat masih surplus US$3,70 miliar. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$22,45 miliar, sementara komoditas migas masih defisit US$18,75 miliar.
Sebelumnya, konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median US$ 0. Artinya, para ekonom dan analis memproyeksi neraca perdagangan Indonesia berpotensi impas, tidak surplus dan tidak defisit. Meski hanya impas, tetapi posisi ini membaik ketimbang Juni yang defisit US$ 450 juta.
Para ekonom memproyeksi adanya perlambatan kinerja ekspor dan impor untuk periode Juli. Meski sama-sama melambat, laju impor diperkirakan masih lebih tinggi daripada ekspor.
Melansir hasil konsensus, ekspor Juli diperkirakan hanya tumbuh 3,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan rata-rata hasil survei berada di 2,7%. Angka perkiraan tersebut menunjukkan perlambatan yang tajam dibandingkan pertumbuhan ekspor Juni yang sebesar 8,84% yoy, setara dengan US$25,46 miliar.
Sebaliknya, impor Juli diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi dengan proyeksi ekonom menghasilkan median pada 23,25%, dan rata-rata 23,11%. Estimasi terendah impor mencapai 15%, sedangkan estimasi tertinggi mencapai 29,4%.
Meski masih tumbuh tinggi, tetapi impor ini juga melambat dibandingkan kenaikan Juni yang mencapai 34,27% yoy, yang ekuivalen US$25,91 miliar.
(lav)





























