Namun dalam dua hari terakhir, harga emas mengalami koreksi. Pertama tentu karena faktor ambil untung (profit taking) mengingat harga sudah naik begitu tinggi.
Kedua adalah pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan lalu. Dalam pidatonya, Warsh menyebut menuju inflasi 2% adalah komitmen yang tidak bisa ditawar dan bank sentral Negeri Adikuasa akan mengerahkan berbagai kebijakan untuk menuju ke sana, termasuk suku bunga.
Pernyataan tersebut menciptakan guncangan di pasar. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam rapat September kini mencapai 65,4%. Saat peluang kenaikan suku bunga membesar, tentu ini bukan kabar baik bagi emas.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana perkiraan harga emas pada September? Apakah bisa naik lagi, atau malah terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), emas nyaman di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 64. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 16. Di bawah 20, sudah tergolong jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan September, harga emas kemungkinan bisa turun. Kenaikan harga yang sudah cukup tinggi tentu memunculkan risiko koreksi teknikal.
Target koreksi terdekat ada di US$ 4.332/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka ada kemungkinan harga emas akan menguji level US$ 4.311-4.180/troy ons.
Cermati pivot point di US$ 4.068/troy ons. Sebab dari sini, ada risiko mengetes US$ 4.020-3.819/troy ons.
Target paling pesimistis ada di US$ 3.678/troy ons.
Namun kalau harga emas naik, maka US$ 4.502/troy ons bisa menjadi target resisten terdekat. Adapun US$ 5.084/troy ons bisa menjadi target paling optimistis.
(aji)



























