Logo Bloomberg Technoz

Namun, sekalipun perang harga dapat dihindari, fragmentasi lebih lanjut dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan dirasakan secara luas. Pasar minyak akan kehilangan pengelola pasokan global yang turun tangan saat terjadi surplus pasokan, sehingga harga lebih rentan turun dan industri minyak global lebih terpapar guncangan. 

"Kohesi dan kredibilitas OPEC sendiri bisa jadi sedang dipertaruhkan," ujar Ali Al Riyami, mantan direktur jenderal pemasaran minyak dan gas di Kementerian Energi Oman—negara yang merupakan bagian dari aliansi lebih luas, OPEC+. "Pertanyaan krusialnya adalah apakah ini menandai awal dari gelombang penarikan diri yang lebih luas."

Dominasi OPEC dan para mitranya telah terkikis dalam beberapa tahun terakhir akibat bangkitnya para pesaing seperti produsen minyak serpih (shale) AS, Brasil, dan Guyana.

Baru-baru ini, perang di Iran membuat Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya hanya menjadi penonton, memaksa mereka membatasi produksi, serta mengalihkan kendali yang lebih besar kepada China sebagai pemain yang menyeimbangkan pasar minyak, dan AS, yang meningkatkan ekspornya. Pengaruh Rusia telah melemah karena ekspornya terpukul akibat perang melawan Ukraina. 

“Bagi OPEC, ini merupakan tanda lain bahwa pengaruh kelompok tersebut di pasar minyak semakin memudar, yang dapat mengakibatkan harga minyak lebih fluktuatif,” kata Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, menanggapi pertimbangan Venezuela. 

Produksi minyak di UEA dan Venezuela. (Bloomberg)

Dalam jangka pendek, keluarnya negara tersebut tidak memberikan dampak besar karena produksinya telah merosot dalam beberapa tahun terakhir akibat sanksi dan krisis ekonomi, sehingga negara itu dibebaskan dari kesepakatan pemangkasan produksi dan sistem kuota OPEC.

Meski ada rencana untuk potensi kesepakatan dengan AS, kecil kemungkinannya terjadi lonjakan produksi yang signifikan dalam waktu dekat.

Namun, pukulan terhadap prestise OPEC, serta makna simbolis dari keluarnya anggota tersebut, akan sangat signifikan.

Jika Caracas mengikuti langkah UEA untuk keluar, keluarnya kedua negara tersebut akan menghilangkan lebih dari 5 juta barel per hari dari kapasitas produksi OPEC, atau sekitar 17% dari jumlah yang dimiliki oleh anggota inti pada awal tahun.

Venezuela juga memiliki cadangan minyak yang sangat besar—salah satu yang terbesar di dunia—yang dapat dieksploitasi dalam beberapa dekade mendatang dengan bantuan perusahaan-perusahaan minyak raksasa AS.

Venezuela juga secara luas dipandang sebagai negara yang memainkan peran terbesar di antara lima negara pendiri OPEC pada 1960, berkat upaya diplomatik tanpa lelah dari menteri perminyakannya saat itu, Juan Pablo Perez Alfonzo.

"Itu akan menjadi pukulan besar bagi OPEC," kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy yang sebelumnya bekerja di sekretariat OPEC. "Venezuela adalah anggota pendiri."

Sekretariat OPEC yang berbasis di Wina dan Kementerian Energi Arab Saudi tidak menanggapi permintaan komentar.

Keluarnya UEA bukanlah yang pertama terjadi dalam beberapa tahun terakhir. 

Abu Dhabi mengumumkan keputusannya untuk keluar pada akhir April, setelah bertahun-tahun merasa frustrasi dengan batasan produksi yang menghalangi negara tersebut memanfaatkan kapasitas produksi yang baru diperluas.

Sebelum UEA, empat negara telah keluar dari organisasi tersebut dalam satu dekade sebelumnya, termasuk keluarnya Angola yang diwarnai ketegangan pada 2024.

Irak, yang juga telah lama menentang aturan ketat OPEC, mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan tak lama setelah langkah UEA tersebut. Baghdad memperingatkan pada Juni bahwa mereka mungkin mempertimbangkan untuk keluar dari organisasi jika tidak diberikan batas produksi yang lebih tinggi sebagai bagian dari audit kapasitas anggota yang sedang berlangsung.

Penilaian tersebut dijadwalkan selesai pada akhir bulan depan. Akibat konflik Iran yang memaksa Arab Saudi, Irak, dan Kuwait menghentikan sebagian besar produksi mereka, tidak banyak yang bisa dilakukan OPEC untuk saat ini.

Namun, situasi tersebut bisa berubah jika konflik terselesaikan. Berbagai lembaga peramal terkemuka, termasuk Badan Energi Internasional (IEA), memproyeksikan bahwa pasar minyak global akan mengalami surplus jika pasokan dari Teluk Persia kembali normal sepenuhnya, bahkan berpotensi menghadapi kelebihan pasokan pada 2027.

"OPEC sedang berjuang menghadapi situasi yang kian tampak sebagai pertempuran yang sulit dimenangkan melawan perubahan signifikan dalam geopolitik minyak," ujar Henning Gloystein, direktur pelaksana bidang energi dan sumber daya di perusahaan konsultan Eurasia Group.

“Penurunan jumlah anggota dan volume produksi secara alami berarti pengaruh kelompok ini terhadap pasar global semakin melemah, terutama karena AS semakin berperan penting dari sisi pasokan,” ujarnya. “Sementara itu, China telah muncul sebagai aktor utama yang dapat memengaruhi keseimbangan dari sisi permintaan.”

Jika OPEC+—kelompok yang lebih luas dan mencakup Rusia—mendapat tekanan untuk memulihkan keseimbangan pasar dengan cara memangkas produksi, maka beban tanggung jawab yang lebih besar akan jatuh ke pundak Arab Saudi selaku pemimpin de facto kelompok tersebut. Belum jelas apakah kerajaan itu memiliki keinginan untuk memainkan peran tersebut.

"Masa depan kemungkinan besar akan diwarnai oleh volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana peran dan relevansi OPEC di masa mendatang mungkin akan didefinisikan ulang secara mendasar," kata Al Riyami, yang kini berstatus sebagai konsultan independen.

(bbn)

No more pages