Dominasi Permian akan mengubah dinamika pasar gas AS, menggeser pasar menjadi pasar yang dipimpin oleh ladang di mana tingkat produksinya sebagian besar tidak responsif terhadap dinamika pasokan dan permintaan gas.
Berbeda dengan Marcellus, aspek ekonomi produksi di Permian sebagian besar ditentukan oleh harga minyak, sementara gas yang dihasilkan merupakan produk sampingan yang tidak direncanakan dan terkadang tidak diinginkan.
Cekungan yang sangat produktif ini dapat mengambil alih posisi terdepan di antara para produsen gas paling cepat pada 2030, meskipun kecepatannya akan bergantung sebagian pada harga minyak, ujar analis Citi Scott Gruber dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.
Harga gas di Permian sempat berada di wilayah negatif selama empat bulan tahun ini karena peningkatan produksi minyak menyebabkan membanjirnya pasokan gas ke pasar, sementara kapasitas pipa penyalur bahan bakar tersebut ke pengguna akhir sudah penuh.
Beberapa produsen menutup sumur dengan rasio gas-terhadap-minyak yang tinggi guna membatasi kerugian.
Gelombang pembangunan pipa gas baru di Texas baru-baru ini telah mendapatkan pendanaan dan diharapkan dapat mengatasi ketimpangan harga tersebut setelah konstruksinya rampung.
Tambahan pasokan gas dari Permian juga berarti bahwa ladang serpih yang sebagian besar menghasilkan gas, seperti Cekungan Haynesville di barat laut Louisiana dan Texas Timur, tidak perlu meningkatkan produksi secara signifikan untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.
Peningkatan kapasitas ini akan meredam "prospek kenaikan harga gas jangka panjang" seiring dengan mulai beroperasinya terminal ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) baru dan pusat data yang membutuhkan daya listrik besar, tulis analis Citi—Gruber, Paul Diamond, dan Johan Monge—dalam catatan untuk klien.
(bbn)































