Adapun, SKK Migas menargetkan kontrak untuk pencairan minyak yang membeku itu dapat ditandatangani pada Jumat (28/8/2026) pekan ini.
Secara teknis, dead stock atau unpumpable stock merupakan sisa volume minyak mentah yang mengendap di dasar tangki penyimpanan atau fasilitas produksi sehingga tidak dapat dipompa keluar.
Kondisi ini terjadi karena posisi pipa hisap (suction nozzle) dipasang sedikit di atas lantai tangki guna mencegah masuknya endapan lumpur atau air ke dalam sistem.
Adapun, akumulasi dead stock dalam jumlah besar berpotensi mengunci modal kerja (working capital) dan mengurangi kapasitas efektif tangki penyimpanan.
Sumur Rakyat
Selain memanfaatkan dead stock, SKK Migas juga mengandalkan tambahan pasokan dari program sumur minyak masyarakat.
Djoksis menyebutkan program sumur rakyat yang semula dijadwalkan mulai berproduksi pada Januari 2026 tersebut baru dapat beroperasi pada Mei 2026, dengan target kontribusi sebanyak 5.000 bph pada akhir tahun.
“Dari sumur masyarakat, ini yang kita harapkan Januari berproduksi, tetapi baru mulai Mei. Kita masih ada harapan bisa dengan Desember itu bisa mencapai 5.000 barrel per day,” ujar Djoksis.
Langkah optimasi lain juga terus didorong melalui intensifikasi kegiatan operasi hulu migas hingga pengujung tahun.
SKK Migas mencatat masih terdapat rencana kerja yang meliputi 482 kegiatan pengeboran, 358 kegiatan kerja ulang (workover), serta 18.811 kegiatan perawatan sumur (well service).
Djoksis berharap seluruh rangkaian kegiatan operasional tersebut mampu memberikan tambahan produksi harian sekitar 4.500 bph guna menopang pencapaian target nasional.
“Mudah-mudahan ini hasilnya bisa melebihi daripada target atau kita masukkan di sini angka 4.500 sehingga kita bisa mencapai 610.000 barrel per day,” katanya.
Lebih lanjut, Djoksis memaparkan evaluasi kinerja produksi minyak nasional yang sempat mengalami tren penurunan sepanjang periode 2016 hingga 2024. Tingkat produksi terendah tercatat pada 2024 dengan capaian 580.000 bph.
Sementara itu, perolehan rata-rata produksi harian sepanjang Januari hingga Juli 2026 berada di level 578.000 bph, dengan capaian khusus Juli sejumlah 580.000 bph.
Meskipun demikian, SKK Migas optimistis kinerja tahun ini dapat melampaui capaian 2024 maupun realisasi 2025 yang sebanyak 607.000 bph, sekaligus mendekati target APBN 2026.
“Untuk Juli, rata-rata kita di 580.000 bph. Outlook Januari sampai Juli rata-ratanya di 578.000 bph,” ungkapnya.
Untuk diketahui, berdasarkan kerangka APBN 2026, target lifting minyak bumi ditetapkan di level 610.000 bph, naik dari 605.000 bph pada 2025. Lifting gas ditarget sebanyak 984.000 barel setara minyak per hari (boepd).
Adapun, untuk asumsi harga minyak mentah Indonesian Crude Price (ICP) untuk 2026 berada pada kisaran US$70 hingga US$80 per barel.
Sebelumnya, SKK Migas mencatat realisasi produksi harian pada awal 2026 sempat terkendala oleh sejumlah gangguan pipa dan listrik di wilayah kerja utama, meskipun optimisme penetapan angka tetap disesuaikan dengan kapasitas riil kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
(smr/wdh)






























