Meski rupiah sedikit tertekan, di pasar surat utang pergerakan yield lebih semarak. Sebagian besar tenor memangkas yield, terutama tenor pendek dan menengah yang kembali di kisaran 6%. Tenor 2 tahun mengalami penurunan yield paling tajam 5,1 bps ke 6,59%, lalu tenor 5 tahun juga turun 1,1 bps ke 6,84%.
Sementara yield 9 tahun juga terpangkas banyak 9,7 bps hingga turun ke 6,99%. Namun, tenor acuan masih tertahan dengan kenaikan 4 bps di 6,99%.
Di pasar surat utang, Indonesia mencatat arus modal masuk sebesar US$656,7 juta pada 20 Agustus dan merupakan level tertinggi sejak Juli 2019. Arus modal yang deras masuk ke pasar surat utang terjadi dipicu oleh berkurangnya frekuensi lelang pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pekan lalu, sehingga investor berburu yield, yang dipandang sudah cukup atraktif, melalui instrumen obligasi pemerintah.
Bank Indonesia mengurangi frekuensi lelang SRBI sejalan dengan stabilnya pergerakan rupiah sepanjang bulan Agustus ini. Meski hari ini tercatat melemah, sejatinya rupiah sudah menguat 1,63% sepanjang Agustus, dan berada di posisi ketiga mata uang terkuat Asia, setelah won Korea Selatan yang menguat 3,88%, dan baht Thailand 2,18%.
(riset/aji)






























