Dilema Tender PLTS 100 GW, Panel Surya Impor Dinilai Lebih Murah
Azura Yumna Ramadani Purnama
24 August 2026 13:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelaksanaan tender pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tahap I sebesar 30 gigawatt (GW) dari total kapasitas 100 GW diprediksi bakal menghadapi dilema, sebab harga panel surya impor dari China dinilai masih lebih murah dibandingkan yang diproduksi di Indonesia.
Berdasarkan riset Shanghai Metals Market (SMM), pada Juni 2026 harga panel surya berbasis teknologi tunnel oxide passivated contact (TOPCon) dari China sekitar US$0,110 per watt di pelabuhan China dan setelah masuk ke Indonesia harganya menjadi kisaran US$0,114–0,120 per watt.
Sementara itu, harga panel TOPCon yang diproduksi di Indonesia jauh lebih tinggi, yakni dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 25% dibanderol sekitar US$0,130 per watt dan dengan TKDN 40% mencapai sekitar US$0,150 per watt.
Sedangkan harga panel surya berbasis teknologi TOPCon dengan TKDN di atas 40% dapat mencapai sekitar US$0,185 per watt.
“Modul impor dengan harga lebih rendah dapat menekan biaya awal proyek berbasis pasar, tetapi belum tentu memenuhi persyaratan untuk proyek pemerintah atau PLN yang mewajibkan kandungan lokal atau TKDN,” tulis SMM dalam risetnya, Senin (24/8/2026).

































