New Mexico juga telah memenangkan putusan terhadap Meta dengan nilai total US$942 juta pada tahun ini. Juri dalam perkara tersebut menemukan Meta menyesatkan anak muda terkait keamanan platformnya.
Sementara itu, koalisi jaksa agung negara bagian yang menggugat Meta di Oakland menuding perusahaan dengan sengaja merancang fitur yang mendorong penggunaan secara kompulsif dan berkepanjangan oleh anak muda, sekaligus menyesatkan konsumen mengenai fitur keamanan platform.
Sebanyak 14 negara bagian lainnya juga mengajukan gugatan terpisah terhadap Meta. TikTok, Snap dan Google turut menghadapi gugatan dari jaksa agung negara bagian terkait tuduhan serupa.
Tekanan juga datang dari distrik sekolah. Lebih dari 1.300 pengaduan telah diajukan distrik sekolah negeri atas nama siswa. Pada Mei, Meta, TikTok, Snap dan Google sepakat membayar total US$27 juta untuk menyelesaikan gugatan dari sebuah distrik sekolah pedesaan di Kentucky yang sebelumnya dijadwalkan masuk persidangan.
Berbeda dari gugatan yang berfokus pada konten pengguna, perkara-perkara tersebut menargetkan desain dan fungsi platform. Para penggugat menilai perusahaan merancang produknya agar pengguna terus terlibat dan sulit berhenti menggunakan platform.
Gugatan dari pengguna individu menggunakan dasar hukum tanggung jawab produk atau product liability, yang sebelumnya digunakan dalam perkara terkait rokok, asbes, perangkat medis bermasalah dan obat-obatan berbahaya.
Sementara gugatan yang diajukan distrik sekolah menggunakan konsep public nuisance. Perusahaan dituding mengganggu pendidikan anak dan berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental anak muda.
Baca Juga: Fenomena 'Anak Muda Jompo': Tekanan Sosial atau Susah Bagi Waktu
Para penggugat juga menyoroti sistem feed tanpa akhir yang dibuat berdasarkan algoritma. Menurut tuduhan dalam berbagai gugatan, desain tersebut menggunakan teknik perilaku yang menyerupai industri perjudian dan rokok untuk mendorong pengguna masuk ke kondisi penggunaan berulang.
Notifikasi yang terus muncul, mekanisme penghargaan dan dorongan untuk berulang kali membuka akun disebut dapat membuat pengguna terus menggunakan platform sepanjang waktu.
Bagi perusahaan, keterlibatan pengguna juga memiliki nilai ekonomi karena aktivitas tersebut menghasilkan data mengenai preferensi, kebiasaan dan perilaku pengguna yang kemudian dapat digunakan untuk penargetan iklan.
Dokumen internal perusahaan turut menjadi bagian penting dalam sejumlah perkara.
Pada 2021, Frances Haugen, mantan manajer produk Facebook yang kemudian menjadi whistleblower, mengungkap dokumen internal yang menunjukkan Meta telah mengetahui dampak negatif platformnya terhadap anak muda, terutama perempuan yang menghadapi persoalan citra tubuh.
Dalam persidangan di Los Angeles, pengacara menunjukkan percakapan internal dan email karyawan yang membahas dugaan sifat adiktif produk Meta. Bukti serupa juga digunakan dalam persidangan lainnya.
Dokumen yang diserahkan ByteDance, dalam merespons gugatan juga menunjukkan dugaan bahwa perusahaan mengetahui anak muda lebih mudah terdorong mengikuti tantangan berbahaya yang mereka lihat di TikTok karena kemampuan menilai risiko mereka belum sepenuhnya berkembang.
Riset produk ByteDance menemukan alasan utama remaja mengikuti tantangan tersebut adalah keinginan mendapatkan tampilan, tanda suka dan komentar, disusul keinginan membuat orang lain terkesan secara daring.
Perusahaan-perusahaan tersebut membantah tuduhan bahwa produk mereka dirancang untuk membuat anak kecanduan. Mereka menyatakan telah menyediakan pengaturan dan perlindungan untuk menjaga keamanan pengguna muda.
Dalam perkara Oakland, Meta membantah tuduhan negara bagian. Pengacara Meta Paul Schmidt mengatakan perusahaan berkomitmen melindungi pengguna muda dan telah mengadopsi perangkat keamanan baru.
Meta juga berpendapat bahwa meski perusahaan menganggap serius larangan penggunaan media sosial oleh anak di bawah 13 tahun, toko aplikasi tempat pengguna berlangganan platform juga memiliki tanggung jawab sebagai penjaga akses.
Dalam persidangan Los Angeles, Meta berargumen bahwa media sosial membantu anak muda terhubung dengan teman dan keluarga.
Meta dan Google mengajukan banding atas putusan Los Angeles. Meta juga mengajukan banding atas putusan di New Mexico.
Perusahaan sebelumnya juga mengandalkan Section 230 dari Communications Decency Act 1996 sebagai perlindungan dari tanggung jawab atas komentar, iklan, foto dan video di platform. Namun, hakim dalam gelombang gugatan terbaru memutuskan perlindungan tersebut tidak mencakup klaim kelalaian.
Risiko finansial bagi perusahaan dapat meningkat jika gugatan-gugatan tersebut terus menghasilkan putusan yang merugikan.
Dalam persidangan Los Angeles, juri memutuskan Meta harus membayar US4,2juta, sementara GoogleUS1,8 juta. Sebagian pembayaran merupakan kompensasi atas kerugian penggugat, termasuk biaya terapi, sementara sisanya merupakan ganti rugi yang bersifat menghukum.
Perkara tersebut merupakan salah satu dari sejumlah kasus uji coba yang dipilih untuk masuk persidangan guna mengukur kekuatan argumen hukum di balik ribuan gugatan lainnya.
Risiko yang lebih besar berada dalam persidangan Oakland. Perkara tersebut mencakup dugaan pelanggaran hukum privasi federal dan undang-undang perlindungan konsumen negara bagian yang dapat mengenakan denda hingga US$20.000 untuk setiap pelanggaran.
Jika Meta kalah, denda yang dihadapi diperkirakan berkisar US193miliar hingga US1,4 triliun. Bahkan nilai terendahnya akan menjadi salah satu pembayaran akibat perkara hukum terbesar yang pernah ada dan mendekati nilai penyelesaian US$206 miliar yang dicapai jaksa agung negara bagian dengan perusahaan tembakau pada 1998.
Distrik sekolah juga menuntut kompensasi atas biaya yang telah dan akan dikeluarkan akibat dampak penggunaan media sosial. Biaya tersebut mencakup perekrutan konselor kesehatan mental dan petugas keamanan serta pelatihan tambahan bagi guru.
Bloomberg Intelligence memperkirakan total eksposur perusahaan-perusahaan yang menghadapi gugatan tersebut hampir mencapai US$400 miliar.
Selain kompensasi finansial, para penggugat juga menuntut perubahan terhadap produk. Distrik sekolah meminta perusahaan memasang pengaturan kontrol orang tua dan mengubah algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna.
Jaksa agung negara bagian juga meminta pengadilan memerintahkan perusahaan membongkar fitur desain yang mereka nilai adiktif dan mengeksploitasi perkembangan otak anak demi keuntungan. Jika perusahaan terus kalah dalam persidangan, tekanan untuk mencapai penyelesaian bernilai miliaran dolar per perusahaan diperkirakan semakin besar.
(red)

































