"Risiko utama perseroan yang memengaruhi kelangsungan usaha adalah risiko dalam distribusi dan pemasaran produk karena produk perseroan adalah produk hasil penelitian yang membutuhkan edukasi dan penetrasi pasar," demikian dikutip dari prospektus perseroan pada Senin (24/8/2026).
Perseroan juga menghadapi risiko kolektibilitas piutang. Swayasa memberikan fasilitas pembayaran berjangka kepada pelanggan langsung maupun jaringan distributor dan sub-distributor. Dalam prospektus disebutkan terdapat sejumlah pelanggan yang mengalami persoalan keuangan maupun hukum.
Per 28 Februari 2026, Swayasa memiliki piutang usaha antara lain kepada PT Rajawali Nusindo sebesar Rp4,82 miliar, PT Farmalab Indoutama Rp5,20 miliar, dan PT Indofarma Global Medika Rp996,74 juta. Piutang kepada Indofarma Global Medika muncul dari kerja sama distribusi dan pemasaran produk GeNose C19.
Indofarma Global Medika saat ini berada dalam kondisi pailit. Swayasa telah mendaftarkan tagihannya kepada tim kurator pada Agustus 2026. Sementara itu, Rajawali Nusindo dan Farmalab Indoutama sebelumnya telah melalui proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan merestrukturisasi kewajibannya melalui homologasi.
"Apabila piutang tersebut tidak dapat tertagih seluruhnya, Perseroan dapat mengalami kerugian dan perlu melakukan penyesuaian atas nilai tercatat piutang sesuai dengan kondisi pemulihannya, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap laba, arus kas, dan kondisi keuangan Perseroan," lanjut prospektus.
Risiko lainnya berkaitan dengan persediaan produk GeNose. Produk yang sebelumnya digunakan sebagai salah satu alat pendukung penanganan pandemi Covid-19 tersebut mengalami penurunan permintaan setelah pandemi berakhir.
Perseroan menyatakan kondisi tersebut membuat produk GeNose saat ini tidak dapat dijual. Dengan demikian, terdapat risiko persediaan tersebut tidak dapat dipulihkan melalui penjualan maupun pemanfaatan lain dalam kegiatan usaha.
Risiko tersebut juga berkaitan dengan bisnis GeNose yang sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan komersialisasi Swayasa. Selain piutang dari distribusi GeNose, perseroan memiliki kewajiban kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) yang berasal dari kerja sama pendanaan dan bagi hasil proyek akselerasi GeNose C19. Pinjaman tersebut digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung proyek tersebut.
Dari sisi kinerja, laba bersih Swayasa pada 2025 tercatat Rp1,42 miliar, turun 58,97% dibandingkan 2024 yang mencapai Rp3,46 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan turunnya penjualan produk Ventilator.
Pada dua bulan pertama 2026, Swayasa masih membukukan rugi bersih Rp570,59 juta. Meski rugi tersebut turun dibandingkan rugi Rp978,70 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan tetap mencatatkan rugi pada periode tersebut.
Selain risiko piutang dan persediaan, terdapat risiko gangguan dan keterlambatan pemenuhan bahan baku. Ketergantungan pada ketersediaan bahan baku membuat keterlambatan pemasok dapat berdampak pada jadwal produksi, pemenuhan pesanan, pendapatan, dan hubungan dengan pelanggan.
Ketergantungan pada sejumlah pelanggan, perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah, kehilangan personel utama, serta risiko lain yang berkaitan dengan kegiatan usahanya juga membayangi perseroan.
Lebih lanjut, selain risiko usaha, investor juga menghadapi risiko likuiditas saham setelah Swayasa tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan menyebut jumlah saham yang ditawarkan relatif terbatas sehingga terdapat kemungkinan saham Swayasa menjadi kurang likuid di pasar sekunder.
(dhf)






























