Dari kawasan, hampir semua mata uang Asia menguat. Won Korea Selatan menguat 0,21%, dolar Taiwan dan bath Thailand masing-masing menguat 0,13%. Sementara dolar Hong Kong dan yen Jepang menguat lebih terbatas, 0,03% dan 0,02%.
Namun, sebagian lainnya mata uang Asia lainnya melemah. Seperti peso Filipina tergerus 0,14%, ringgit Malaysia dan rupiah masing-masing melemah 0,07% dan 0,04%. Sedangkan, yuan offshore, yuan China, dan dolar Singapura melemah lebih terbatas.
Penguatan pada sebagian mata uang Asia juga mendapat dorongan dari penurunan harga minyak yang kembali terkoreksi 2,2% ke US$92,56/barel pada 08.49 WIB.
Harga minyak yang lebih jinak ini meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, sekaligus mengurangi risiko terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan impor energi negara-negara di kawasan.
Arus Modal Asing di Asia
Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia juga tertopang oleh arus modal asing yang masuk di kawasan. Di Indonesia, misalnya, arus investor global ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) alias obligasi juga menjadi katalis.
Investor global tercatat membukukan pembelian bersih sebesar US$656,7 juta pada 20 Agustus, dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2019. Begitu juga di pasar saham, investor masih mencatat pembelian saham domestik senilai US$55,2 juta pada 21 Agustus.
Penguatan baht Thailand juga tertopang oleh arus modal masuk yang tercatat US$45 juta di pasar obligasi pada 21 Agustus. Investor juga membukukan pembelian senilai US$57,7 juta saham Thailand di hari yang sama.
Sebaliknya, kinerja ringgit Malaysia dan peso Filipina yang tergerus juga dikarenakan aksi jual di pasar keuangan negara tersebut. Investor asing menjual US$2,7 juta saham. Sementara, di pasar Filipina, investor melepas kepemilikan saham sebesar US$9,02 juta pada 20 Agustus.
Bagi Indonesia, arus modal ini juga sebenarnya telah memperbaiki kondisi neraca pembayaran di kuartal kedua 2026. Lonjakan arus modal masuk berhasil menutup pelebaran defisit transaksi berjalan (current account), dan membuat transaksi eksternal Indonesia membaik.
Pekan lalu, Bank Indonesia melaporkan data Neraca Pembayaran Indonesia yang tercatat membaik dengan menyusutnya defisit menjadi US$880 juta dari kuartal sebelumnya US$9,1 miliar.
Bank Indonesia melaporkan, bahwa peningkatan surplus investasi portofolio terutama didorong oleh derasnya arus masuk asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan kembalinya arus masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), juga adanya dukungan dari penerbitan obligasi global.
(riset/aji)





























