Logo Bloomberg Technoz

"Lonjakan kapasitas ini sangat selaras dengan target RUPTL pemerintah untuk menambah 5,2 GW kapasitas panas bumi dan memberikan prospek struktural yang kuat bagi profitabilitas PGEO dalam jangka panjang," ujar Adolf.

Prospek ekspansi tersebut juga didukung kinerja operasional yang solid. Pada semester I-2026, produksi steam dan listrik PGEO mencapai 2.745 GWh, tumbuh 13,6% secara tahunan. Pendapatan pun naik 14,7% menjadi US$235 juta.

Capacity factor meningkat menjadi 90,4% dari 86,8% pada semester I-2025, sementara availability factor mencapai 99,7%. Laba bersih juga tumbuh 15,5% menjadi US$79,6 juta. Adolf menilai kenaikan produksi tersebut menunjukkan permintaan listrik yang lebih kuat sekaligus perbaikan keandalan aset PGEO.

"Pertumbuhan volume didukung oleh permintaan dispatch PLN yang lebih kuat, optimalisasi aset-aset utama, serta peningkatan keandalan aset," ujarnya.

Untuk 2026, PGEO menargetkan produksi sebesar 5.255 GWh. KB Valbury Sekuritas menilai target tersebut masih dapat dicapai, terutama dengan dukungan permintaan dispatch PLN yang diperkirakan tetap kuat.

Di sisi lain, kenaikan depresiasi dari aset baru serta biaya tenaga kerja dan jasa profesional diperkirakan menahan ekspansi margin dalam jangka pendek. Namun, KB Valbury Sekuritas tetap konstruktif terhadap prospek PGEO karena pipeline ekspansinya memberikan ruang pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.

"Permintaan dispatch PLN yang lebih tinggi, yang sebagian terbantu oleh kekurangan pasokan batu bara pada pembangkit termal, seharusnya terus mendukung utilisasi PGEO," tutur Adolf.

KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk PGEO dan menaikkan target harga menjadi Rp1.400/saham 12 bulan ke depan, atau memberikan potensi kenaikan 31,45% dari harga Rp1.065 pada hari ini.

(dhf)

No more pages