Logo Bloomberg Technoz

"Pelaku usaha mikro memiliki insentif ekonomi yang lebih kuat untuk beralih ke CNG jika terbukti lebih murah secara kalkulasi operasional, sementara rumah tangga lebih memprioritaskan kepraktisan dan kemudahan akses," kata Faisal.

Faktor kenyamanan dan ketersediaan pasokan di tingkat pengecer juga menjadi pertimbangan utama bagi konsumen rumah tangga sebelum beralih dari LPG ke CNG. Rumah tangga dinilai enggan menghadapi risiko kelangkaan atau kerumitan infrastruktur baru.

Menurut Faisal, pemerintah dan pihak terkait nantinya tidak bisa langsung menggeneralisasi keberhasilan uji coba di tingkat UMKM sebagai indikator kesiapan masyarakat luas di sektor domestik.

"Uji coba di sektor UMKM memang penting sebagai pembanding, tetapi evaluasi mendalam dan penyesuaian strategi distribusi khusus rumah tangga wajib dilakukan sebelum kebijakan ini diterapkan secara masif," tutur Faisal.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan uji coba CNG 3 Kg tahap III bakal dimulai dilakukan di pedagang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berada di kantin Lemigas.

“Kita melakukan beberapa uji dulu. Kita memanfaatkan UMKM nanti yang ada di dalam lingkungan Lemigas. Di sana ada kantin. Kita mau coba manfaatkan dulu di situ. Sambil kita evaluasi,” kata Laode kepada awak media usai IIGCE 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026).

Lebih lanjut, Laode menyatakan Kementerian ESDM sedang menyiapkan skema distribusi CNG 3 kg guna memastikan penyaluran dari hulu hingga hilir berjalan secara optimal.

“Kita sedang melakukan finalisasi skemanya. Jadi skemanya itu nanti seperti apa sih biar dari sisi hulunya siap, hilirnya juga siap, masyarakat yang menerima juga merasa senang ketika nanti juga memanfaatkan itu,” tegasnya.

Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan penggunaan CNG bisa 1,5 kali lebih awet dibandingkan penggunaan LPG biasa.

Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, peneliti BRIN Joddy Arya menjelaskan satu tabung LPG umumnya habis dalam waktu satu pekan, sedangkan penggunaan tabung CNG diproyeksikan dapat menopang kebutuhan dapur masyarakat hingga 10 sampai 15 hari.

“Volumenya [CNG] juga juga lebih banyak 1,5 kalinya. Kalau memang nanti masyarakat menggunakan ini, misalkan satu kali penggunaan seminggu LPG, ini [CNG] bisa 10—15 hari, 1,5 kali untuk sementara,” ungkap Joddy di Istana Merdeka, Kamis (6/8/2026).

Selain dari sisi daya tahan dan volume yang lebih besar, daya tarik utama dari teknologi CNG terletak pada kemudahannya untuk langsung diaplikasikan.

Dia mengatakan masyarakat tidak perlu membeli kompor atau saluran selang baru, karena tabung komposit CNG ini dirancang kompatibel dengan perangkat kompor gas yang sudah ada.

“Kalau ini jadi, kita ekosistemnya tidak ubah, menggunakan kompor LPG biasa selang biasa sudah bisa. Izin kalau ini saya hidupkan sedikit, langsung pak sudah menyala. Jadi hanya tabungnya saja yang sekarang berubah dari tabung logam jadi komposit,” ujarnya.

(smr/naw)

No more pages