Langkah mengejutkan tersebut—yang ditandai dengan pembatalan latihan militer saat agenda tahunan itu sudah berjalan—diacuhkan begitu saja oleh Pyongyang. Pihaknya menyatakan bahwa terlepas dari hubungan yang "sangat baik" antara Trump dan pemimpin mereka, Kim Jong Un, kebijakan bermusuhan Amerika terhadap Korut tetap tidak berubah.
Meski demikian, Presiden Korsel Lee Jae Myung menyambut baik langkah Trump sebagai potensi pembuka bagi pemulihan jalur diplomasi.
"Pesan terbaru dari Presiden Trump bagi saya merupakan keputusan besar yang mencerminkan pertimbangan mendalam tentang bagaimana bergerak melampaui permusuhan dan konfrontasi serta membangun perdamaian di Semenanjung Korea," ujar Lee dalam sebuah unggahan larut malam di X pada Rabu (19/8).
Peluncuran ini juga berlangsung hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Korsel menyatakan bahwa Korut diperkirakan memiliki hingga 120 senjata nuklir, lebih dari dua kali lipat dari 57 hulu ledak yang disebutkan oleh Trump.
"Angkanya tampaknya agak berbeda," ujar Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back kepada para anggota parlemen ketika ditanya mengenai penilaian Trump bahwa Kim memiliki "57 senjata nuklir yang sangat kuat."
"Kami biasanya memperkirakan berada di kisaran 80 hingga 120," kata Ahn, mengacu pada estimasi Korsel.
Ahn belakangan mengklarifikasi bahwa ia mengutip penilaian dari sebuah lembaga riset Korsel. "Mengenai penilaian militer itu sendiri, ada batasan yang cukup besar mengenai apa yang dapat saya ungkapkan di sini," tegasnya.
Uji coba senjata terbaru ini menandai peluncuran rudal ketiga Korut sepanjang bulan ini, yang mempertegas besarnya tantangan bagi Trump saat ia berusaha membangkitkan kembali diplomasi personal dengan Kim yang sempat mewarnai masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
"Saya mengenal Kim Jong Un dengan sangat baik, dan dia akan baik-baik saja. Selama kita memiliki presiden yang pintar, dia akan baik-baik saja," kata Trump.
Terlepas dari keyakinan Trump, persenjataan Kim yang terus berkembang kian menyulitkan upaya AS untuk memulihkan jalur diplomasi. Trump dan Kim pernah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama pemimpin AS tersebut, tetapi pembicaraan itu gagal meredam ambisi nuklir Korut.
Sejak saat itu, Kim muncul sebagai sekutu penting Rusia dalam perang Presiden Vladimir Putin melawan Ukraina. Kondisi tersebut membuat Kim memiliki sedikit insentif untuk segera berunding dengan AS terkait program nuklir yang menjadi andalannya.
Presiden Korsel Lee mengatakan pada Januari bahwa Korut memproduksi material nuklir dengan kecepatan yang memungkinkan negara tersebut menambah hingga 20 senjata nuklir per tahun.
Jika laju tersebut terus berlanjut, persediaan senjata nuklir Korut pada akhirnya akan menyamai Prancis dalam jumlah, meski belum tentu dalam kecanggihan, dan jauh melampaui sekitar 90 hulu ledak yang dimiliki Israel, menurut perkiraan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
Korea Utara diperkirakan memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir dan material fisil yang cukup untuk memproduksi setidaknya 30 hulu ledak tambahan, menurut laporan SIPRI.
(bbn)































