Logo Bloomberg Technoz

Situasi itu, kata Elandry, terlihat pada saham berkapitalisasi kecil. Backdoor listing, kata dia, sering memicu spekulasi dan volatilitas yang tinggi.

“Jadi menurut saya, investor jangan hanya melihat siapa investor baru atau sektor baru yang masuk, tetapi harus melihat kualitas aset yang diakuisisi, valuasinya, sumber pendanaan,” tuturnya.

Sejumlah aksi backdoor saham belakangan berhasil mengerek peforma di lantai bursa. Khususnya, saham yang berkaitan dengan konglomerasi bisnis.

Misalkan, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) yang diambil alih taipan China Deng Weiming. Saham PACK menguat 67,62% ke level Rp352 per saham selama satu bulan terakhir.

Saham PACK awalnya bergerak pada bisnis kemasan plastik sebelum diambil alih Deng Weiming akhir 2024 lalu. Di tangan Weiming, PACK kini menjelma menjadi perusahaan tambang nikel.

Kemudian PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) kini terjun ke dunia hilir migas setelah diambil alih PT Morris Capital Indonesia (MCI).

Saat bernama PT Multi Makmur Lemindo Tbk, PIPA berfokus pada bisnis material bangunan berbahan PVC.

Selepas terjun ke bisnis hilir migas, saham PIPA menguat 25,41% ke level Rp153 per saham selama tiga bulan terakhir.

Selain itu, saham PT Folago Global Nusantara Tbk (ISRX) jug hasil backdor listing setelah diambil alih pengendali baru PT Matra Tri Abadi.

Saham IRSX menguat 29,58% selama satu bulan terakhir ke level Rp368 per saham. IRSX sebelumnya berfokus pada bisnis teknologi dan solusi digital sebelum terjun ke bisnis perdagangan besar.

Di sisi lain, emiten backdoor listing lainnya seperti PT Berkas Prima Perkasa Tbk (BLUE) dan PT Leyand International Tbk (LAPD) cenderung melemah beberapa waktu terakhir.

Saham BLUE melorot 17,24% ke level Rp2.400 per saham selama satu bulan terakhir. Sebelumnya, BLUE diambil alih oleh Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited.

Dragonmine merupakan lengan investasi Huayou Hongkong Limited. Dengan demikian, BLUE memiliki eksposur khusus dengan raksasa pengolahan nikel Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. Awalnya, BLUE memiliki fokus bisnis tinta dengan merek Blueprint.

Sementara itu, saham LAPD merosot 4,41% ke level Rp65 per saham selama satu bulan terakhir.

Sebelumnya pengendali lama LAPD melepas kepemilikan sahamnya ke JSI Sinergi Mas. LAPD dikenal sebagai emiten dengan bisnis pembangkit listrik.

-- Dengan asistensi Cahya Puteri Abdi Rabbi

(naw)

No more pages