Dalam tanggapan melalui email atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, Anthropic merujuk pada kebijakannya, yang tidak mengizinkan akses ke Claude di Hong Kong atau China.
Larangan penggunaan Claude oleh OKX terjadi di tengah memanasnya persaingan korporat dan ketegangan politik antara AS dan China terkait masa depan AI.
Raksasa Silicon Valley seperti Anthropic dan OpenAI mendominasi industri ini dalam hal keunggulan teknologi, namun pengembang China seperti DeepSeek, Alibaba Group Holding Ltd., dan Moonshot berkembang pesat.
Pejabat AS telah mengeluarkan peringatan publik mengenai perusahaan AI China menjelang pembicaraan yang direncanakan antara kedua negara pada bulan September.
OKX bukan perusahaan satu–satunya yang menghadapi pembatasan dari penyedia AI. Goldman Sachs Group Inc., ambil contoh. Ia juga harus memblokir akses karyawan yang berbasis di Hong Kong ke model-model Anthropic, seperti yang dilaporkan Bloomberg sebelumnya.
Namun, OKX telah mendorong stafnya untuk menggunakan AI dalam rutinitas sehari-hari, sehingga penguasaan alat-alat tersebut menjadi bagian dari evaluasi kinerja mereka.
Meskipun karyawan telah memiliki akses ke model bahasa besar (LLM) Claude dan ChatGPT dari OpenAI selama beberapa waktu, model dari Anthropic dianggap secara internal lebih berdampak, dilaporkan Bloomberg News pada bulan Mei. OKX menghabiskan sekitar US$6 juta–US$8 juta per bulan “untuk berbagai penyedia LLM ternama,” menurut pernyataannya.
Sebuah pesan internal kepada staf pada awal Agustus menyebutkan bahwa karyawan yang bepergian ke Hong Kong atau China tidak akan mendapat dukungan untuk mengakses Claude melalui jaringan pribadi virtual (VPN). VPN telah lama menjadi cara populer bagi pengguna di China daratan untuk mengakses aplikasi dan layanan berbasis web yang tidak tersedia atau dibatasi di sana. Pesan lain pada pekan ini menegaskan kembali bahwa karyawan hanya dapat menggunakan Claude di “area yang didukung.”
CEO OKX, Star Xu, mendirikan pendahulu bursa ini, OKCoin, di Tiongkok pada tahun 2013. Ia kemudian meluncurkan bursa internasional yang kelak menjadi OKX, dengan mendirikannya di luar negeri saat otoritas Tiongkok mulai melakukan tindakan keras besar-besaran terhadap industri kripto.
Pada bulan Maret, OKX menjual sebagian sahamnya kepada Intercontinental Exchange Inc., pemilik Bursa Efek New York, dalam kesepakatan yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$25 miliar.
(bbn)
































