Dia juga optimistis Shell tidak sembarangan memberikan lisensi mereknya untuk digunakan kelompok usaha Sefas dalam menjalankan bisnis SPBU di Indonesia.
“Jadi saya yakin juga Shell juga punya pertimbangan dan juga sudah menganalisa dan pasti juga akan ada mendampingi untuk bagaimana bisnis Sefas ini sukses di Indonesia. Jadi kita sih berharap ini tetap akan jalan lancar dan bisa menjadi salah satu opsi ya bagi masyarakat untuk SPBU,” tegas Moshe.
Izin Impor
Lebih lanjut, Moshe menduga Sefas Group masih harus mengurus ulang izin impor dan izin niaga BBM di Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meskipun telah mengakuisisi bisnis SPBU Shell.
Alasannya, izin impor dan izin niaga BBM yang sebelumnya dimiliki Shell diberikan untuk perusahaan Shell Indonesia.
Kendati begitu, dia meyakini Sefas telah mempersiapkan sejumlah persyaratan yang dibutuhkan agar proses pengajuan izin berjalan secara lancar.
“Pasti, kalau ini pakai nama PT-nya Sefas kecuali masih pakai nama PT yang sebelumnya. Kalau izin itu kan dikaitkan dengan nama perusahaannya. Izin itu diberikan ke perusahaan bukan ke brand,” ujar Moshe.
Adapun, Sefas telah buka suara ihwal potensi kembali tersedianya BBM jenis bensin di SPBU Shell.
Perwakilan manajemen Sefas Group menegaskan memahami bahwa ketersediaan produk BBM menjadi hal penting bagi pelanggan dan mitra bisnis perseroan.
Dengan begitu, perseroan menegaskan bakal mengupayakan untuk dapat menjaga kesinambungan operasional dan pelayanan kepada pelanggan dengan pihak-pihak terkait.
“Kami memahami bahwa ketersediaan produk merupakan hal yang sangat penting bagi pelanggan dan mitra bisnis kami. SEFAS menempatkan keberlangsungan operasional yang aman dan andal sebagai salah satu prioritas utama,” kata perwakilan manajemen Sefas Group kepada Bloomberg Technoz, Kamis (20/8/2026).
Lebih lanjut, Manajemen Sefas Group memastikan merek Shell tetap digunakan oleh perseroan dalam menjalankan bisnis SPBU.
“Pelanggan juga akan tetap melihat merek Shell di Indonesia melalui skema lisensi merek, dengan fokus pada kesinambungan layanan bagi pelanggan, karyawan, dan mitra,” tegas perwakilan manajemen Sefas Group.
Adapun, akuisisi bisnis SPBU Shell Indonesia dilakukan sepenuhnya oleh Sefas Group, tak melalui usaha patungan atau joint venture (JV) yang sebelumnya disebut-sebut melibatkan Citadel Pacific Limited.
Dalam pengumuman resminya, Sefas Group menyatakan proses akuisisi tersebut tengah menunggu proses persetujuan regulator dan persyaratan umum lainnya.
“Sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, Sefas bangga dapat mengambil langkah bisnis berikutnya, dan mendukung pertumbuhan masa depan sektor ritel energi Indonesia,” ujar CEO Sefas Group Ricky Roesli melalui siaran pers, Rabu (19/8/2026).
Sekadar informasi, Shell kembali menjual BBM jenis solar atau diesel sejak Mei 2026, tetapi BBM jenis bensin hingga kini masih banyak yang masih kosong.
PT Shell Indonesia, pemilik SPBU Shell sebelumnya, sempat menyatakan ini masih berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengurus rekomendasi impor BBM periode 2026.
Adapun, Kementerian ESDM pada Februari sempat menyatakan belum menerbitkan rekomendasi impor BBM periode 2026 untuk Shell Indonesia.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman sebelumnya mengklaim hal tersebut terjadi gegara Ditjen Migas masih mengevaluasi kuota impor BBM yang diajukan perusahaan tersebut.
Laode juga menyatakan Shell menjadi badan usaha (BU) hilir migas swasta yang paling terakhir mengajukan pembelian base fuel atau BBM dasaran ke PT Pertamina (Persero) pada tahun lalu, ketika rekomendasi impor BU swasta habis.
“[Rekomendasi impor BBM Shell 2026] masih dievaluasi, kan terakhir juga kemarin mereka pemesanan ke Pertamina kan 2025 terakhir,” kata Laode ditemui di Menara Bank Mega, Kamis (5/2/2026).
(azr/wdh)
































