Saham Asia Bersiap Rebound Menyusul Penguatan Wall Street
News
20 August 2026 06:20

Toby Alder - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham di Asia bersiap mencatatkan pemulihan, mengekor penguatan luas di Wall Street setelah para pejabat AS mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah bertenor panjang. Langkah ini diambil guna membantu meredakan biaya pinjaman menyusul lonjakan imbal hasil (yield) yang mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Rali pada obligasi US Treasury bertenor 30 tahun mendorong imbal hasil turun 10 basis poin menjadi 5,18% selama sesi perdagangan di New York, yang turut menekan indeks dolar AS ke level terendah dalam tiga bulan. Emas melonjak ke level tertingginya sejak awal Juni seiring melemahnya imbal hasil. Harga minyak mempertahankan reli empat hari berturut-turut dengan kontrak berjangka AS diperdagangkan mendekati US$85 per barel, sementara Bitcoin melesat saat Trump mendesak Kongres untuk mengesahkan undang-undang kripto krusial di tengah pertemuan Gedung Putih dengan para eksekutif industri tersebut.
Kontrak berjangka indeks saham AS sedikit menguat pada awal perdagangan pada Kamis (20/8) setelah mayoritas saham S&P 500 menguat pada hari Rabu, meskipun saham-saham produsen cip mengalami penurunan. Kontrak berjangka untuk Jepang, Kore Selatan, dan Australia mengindikasikan kenaikan saat pembukaan, yang berpotensi membawa indeks acuan kawasan keluar dari tren penurunan selama dua hari berturut-turut.
Tingginya imbal hasil telah menjaga biaya pinjaman tetap mahal, sehingga memberatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu risiko politik bagi Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela (midterms) November mendatang. Pasar obligasi sempat mengalami aksi jual karena investor menuntut kompensasi lebih besar atas risiko inflasi, membuat fokus pasar kini tertuju pada apakah langkah terbaru Departemen Keuangan AS mampu meredam pergerakan imbal hasil tersebut.




























