Logo Bloomberg Technoz

Industri barang mewah terdampak dari berbagai sisi, dengan konsumen China yang mengurangi pengeluaran, tekanan inflasi yang membuat pembeli lebih berhati-hati, serta perang di Timur Tengah yang menekan permintaan di pusat-pusat belanja seperti Dubai dan arus wisatawan ke Eropa. China, yang sebelumnya menjadi pendorong utama bagi sektor ini, masih belum sepenuhnya pulih, kata Axel Dumas, Executive Chairman Hermès, kepada wartawan dalam sebuah konferensi melalui telepon.

“Saya melihat stabilisasi pasar China, tetapi saya belum melihat pemulihan yang mendasar,” katanya, seraya menambahkan bahwa perusahaan tetap tumbuh di negara tersebut meski dengan laju yang lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hermès memiliki eksposur yang lebih besar terhadap China dibandingkan banyak pesaingnya. Wilayah yang mencakup China menyumbang sekitar 43% pendapatan perusahaan pada paruh pertama tahun ini. Sementara bagi LVMH, Asia di luar Jepang menyumbang 29% pendapatan pada periode yang sama.

Secara keseluruhan, pendapatan naik 6,7% berdasarkan kurs konstan pada kuartal kedua menjadi sekitar €4,1 miliar (US$4,7 miliar), kata perusahaan dalam sebuah pernyataan. Angka itu melampaui ekspektasi analis sebesar 6,51%.

Pertumbuhan Hermès dalam tiga bulan terakhir dipimpin oleh kawasan Amerika, yang mencatat kenaikan 13,7%. Prancis, yang merupakan destinasi wisata utama, tumbuh 6,2%, sementara kawasan yang mencakup Timur Tengah membaik secara berurutan meski masih mencatat pertumbuhan negatif. Kawasan tersebut “menunjukkan ketahanan yang luar biasa dalam lingkungan geopolitik yang tidak stabil,” kata perusahaan.

Konflik di Timur Tengah dan mundurnya konsumen yang ingin membeli barang-barang kelas atas telah berdampak pada industri barang mewah secara lebih luas. Namun, Hermès menunjukkan ketahanan berkat daftar tunggu yang panjang untuk produk-produknya, terutama tas Kelly dan Birkin, serta model bisnis yang membatasi ketersediaan barang-barang yang banyak diminati untuk mendorong permintaan dan menjaga harga tetap tinggi.

Laporan Hermès menyusul hasil yang sebagian besar mengecewakan dari pemimpin pasar LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE, serta Burberry Group Plc dan Moncler SpA. Merek-merek tersebut memiliki eksposur yang lebih besar terhadap fashion dan produk kulit. Namun, hasil kuat Richemont, yang didukung oleh merek-merek perhiasannya Cartier dan Van Cleef & Arpels, menunjukkan bahwa konsumen masih bersedia berbelanja barang mewah secara royal, tetapi kini lebih selektif.

Sejumlah analis mempertanyakan apakah Hermès perlu mengambil langkah sulit tetapi diperlukan untuk mengurangi produksi produk kulit guna mempertahankan nilai mereknya.

Menanggapi hal tersebut, Dumas mengatakan kepada wartawan bahwa Hermès secara alami dibatasi oleh kelangkaan perajin terampil serta ketersediaan kulit berkualitas tinggi, yang merupakan bagian dari rantai pasokan yang semakin terindustrialisasi.

“Jika saya tidak menemukan kulit yang cukup bagus, saya tidak akan memproduksi,” katanya.

Perusahaan berada di jalur yang tepat untuk membuka satu pabrik manufaktur produk kulit setiap tahun di Prancis hingga 2030. Setelah itu, kata Dumas, sejumlah wilayah telah menghubunginya karena ingin perusahaan tersebut membuka fasilitas di daerah mereka.

(bbn)

No more pages