Logo Bloomberg Technoz

Ia mencontohkan perbedaan kondisi industri baja dalam negeri dengan perusahaan baja di negara lain yang memiliki teknologi lebih maju. Menurut dia, faktor usia fasilitas produksi turut menjadi tantangan, terlebih industri baja kini menghadapi tuntutan dekarbonisasi.

Selain teknologi dan usia fasilitas, Willy menyoroti biaya energi dan logistik yang dinilai, "kurang kompetitif."

Tak berhenti di sana, Willy menambahkan tantangan industri baja nasional juga semakin berat karena tekanan pasar dan perdagangan global yang meningkat signifikan. Salah satunya karena adanya kebijakan penerapan emisi karbon oleh Uni Eropa melalui Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).

Menurutnya, kebijakan serupa juga berpotensi diikuti oleh negara maju lainnya sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap industri baja Indonesia.

Selain itu, industri baja global juga menghadapi persoalan kelebihan kapasitas atau excess capacity. Kondisi ini terjadi karena sejumlah negara, termasuk negara-negara di Eropa, mulai menutup akses terhadap produk baja dari negara tertentu.

Willy memperkirakan potensi excess capacity baja global dapat mencapai 745 juta ton pada 2028.

Kondisi tersebut berpotensi membuat produk baja dengan harga murah membanjiri pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia menggambarkan, apabila kebutuhan baja Indonesia mencapai sekitar 100 juta ton, maka produk murah dari negara lain akan berupaya masuk untuk mengisi pasar domestik.

Di samping itu, persoalan kelebihan kapasitas juga berpotensi memicu trade diversion atau pengalihan perdagangan. Willy mengatakan negara-negara berkembang dan pasar berkembang seperti Indonesia bisa menjadi salah satu sasaran dari fenomena tersebut.

"Negara sasaran untuk ini memang kita yang disasar itu emerging countries, emerging market countries."

(lav)

No more pages