Logo Bloomberg Technoz

BoE dalam Agents' Summary of Business Conditions Juli 2026 mencatat niat perusahaan untuk menambah tenaga kerja secara umum masih datar. Jumlah pekerja diperkirakan relatif tidak berubah dalam 12 bulan ke depan, dengan pengurangan tenaga kerja terutama terjadi melalui tidak mengganti pekerja yang keluar secara alami.

Namun, terdapat perekrutan terarah di sektor jasa profesional serta teknologi dan digital. Perusahaan juga semakin berfokus pada efisiensi dan produktivitas melalui otomatisasi serta AI.

BoE mencatat bahwa AI telah meningkatkan produktivitas sejumlah perusahaan dengan mengotomatisasi pekerjaan rutin dan mempercepat pekerjaan berbasis pengetahuan. Dampaknya terlihat pada pengembangan perangkat lunak, keuangan, administrasi, layanan pelanggan, jasa profesional hingga pembuatan konten.

Perusahaan yang mampu menerapkan AI secara efektif dan dalam skala besar dapat meningkatkan output tanpa menambah jumlah pekerja secara proporsional. Dalam sejumlah kasus, kebutuhan tenaga kerja bahkan dapat berkurang.

Baca Juga: Tugas Rutin Mulai Tergantikan AI, Waspada

Kondisi ini menjadi salah satu sumber munculnya ekonomi dua kecepatan. Perusahaan yang memiliki sumber daya dan kemampuan untuk mengintegrasikan AI dapat meningkatkan produktivitas, sementara perusahaan atau sektor yang lebih rentan terhadap otomatisasi menghadapi tekanan terhadap biaya dan tenaga kerja.

Pekerja Junior Paling Tertekan

Dampak AI juga mulai terlihat pada struktur tenaga kerja. BoE mencatat otomatisasi mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah posisi entry-level dan junior yang selama ini menjadi jalur awal karier, seperti pekerjaan penyusunan dokumen, pemrosesan faktur dan analisis dasar.

Sejumlah perusahaan jasa profesional bahkan melaporkan penurunan perekrutan lulusan baru serta berkurangnya permintaan terhadap staf administrasi dan junior. Di saat yang sama, permintaan bergeser kepada pekerja dengan kemampuan AI, data dan analitik, serta pekerjaan yang membutuhkan penilaian, pengawasan dan pemecahan masalah.

Perubahan tersebut berpotensi menciptakan persoalan baru dalam jangka panjang. Jika pekerjaan junior semakin banyak diotomatisasi, jalur bagi pekerja muda untuk mendapatkan pengalaman dan membangun keterampilan juga dapat menyempit.

Dalam laporan Bloomberg Technoz sebelumnya, perusahaan-perusahaan yang disurvei Lloyds juga disebut mulai memperluas pelatihan bagi pekerja yang sudah ada.

Dua pertiga perusahaan dengan omzet di atas £10 juta menyatakan tenaga kerja mereka telah memiliki keterampilan AI yang dibutuhkan, dibandingkan sedikit lebih dari setengah perusahaan secara keseluruhan. Lebih dari 70% perusahaan besar juga berencana meningkatkan investasi AI untuk mendorong produktivitas.

Baca Juga: Adaptasi AI atau Tergilas di Era Teknologi Kecerdasan Buatan

Tidak Semua Sektor Bergerak Sama

Perbedaan kecepatan tersebut tidak hanya terjadi antarpekerja, tetapi juga antarsektor. BoE mencatat investasi teknologi, termasuk AI, meningkat di sektor jasa bisnis karena perusahaan mengejar efisiensi. Di sektor manufaktur, perusahaan juga lebih banyak mengarahkan investasi kepada otomatisasi dan efisiensi setelah biaya tenaga kerja meningkat.

Sebaliknya, sejumlah sektor masih menghadapi permintaan yang lemah. BoE mencatat pengurangan tenaga kerja terutama terjadi pada sektor jasa konsumen dan sebagian manufaktur, sementara perekrutan terarah masih terjadi di jasa profesional serta sektor teknologi dan digital.

Artinya, booming AI tidak otomatis membuat seluruh perekonomian bergerak lebih cepat. Investasi dan produktivitas dapat meningkat pada sektor tertentu, sementara sektor lain justru menghadapi tekanan untuk memangkas biaya dan menahan perekrutan.

AI Bisa Menambah atau Menggantikan Pekerja

Konsep two-speed economy juga dijelaskan dalam kajian Bank of Canada berjudul Monetary Policy in an AI-Driven Two-Speed Economy yang diterbitkan Juli 2026.

Dalam kajian tersebut, Bank of Canada membedakan dua bentuk perubahan teknologi akibat AI. Pertama, augmentation, yakni AI meningkatkan produktivitas pekerja dalam tugas yang sudah ada. Kedua, automation, yakni AI menggantikan tenaga kerja dengan memindahkan sebagian tugas dari manusia kepada mesin.

Keduanya dapat menekan permintaan tenaga kerja dalam jangka pendek, tetapi dampaknya berbeda. Pada augmentation, pekerja tetap menjalankan tugas dengan dukungan AI. Sementara pada automation, sebagian tugas manusia benar-benar dipindahkan kepada teknologi.

Bank of Canada menilai adopsi AI yang hanya terjadi pada sektor tertentu dapat menciptakan persoalan bagi kebijakan ekonomi. Pasalnya, kebijakan moneter bekerja pada tingkat perekonomian secara keseluruhan dan tidak dapat secara langsung membedakan sektor yang terdampak AI dengan sektor yang tidak terdampak.

Pertumbuhan AI Belum Merata

BoE juga mencatat manfaat produktivitas AI masih berbeda-beda antarperusahaan. Besarnya manfaat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut diterapkan, kemampuan pekerja, serta seberapa besar pengawasan manusia masih diperlukan.

Perusahaan dengan pekerja terampil yang mampu memvalidasi dan memperbaiki keluaran AI cenderung mendapatkan manfaat lebih besar. Karena itu, pelatihan dan perubahan cara kerja menjadi bagian penting dalam proses adopsi.

Di sisi lain, ledakan permintaan terhadap komputasi awan dan layanan AI mendorong investasi besar pada pusat data. Namun, ekspansi tersebut masih menghadapi keterbatasan kapasitas listrik, koneksi jaringan, lahan, semikonduktor, transformator dan tenaga kerja terampil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa manfaat ekonomi AI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menggunakan teknologinya, tetapi juga siapa yang memiliki akses terhadap modal, infrastruktur dan sumber daya manusia yang dibutuhkan.

-Dengan asistensi Whery Enggo Prayogi.

(fik)

No more pages